Pendidikan Inklusif Penting Bagi Masyarakat Pluralis

Inklusif: (ki-ka) Henry Feriadi, Ruard Ganzevoort, Muhammad Machasin pada konferensi Pendidikan Agama Inklusif III, di kampus UKDW Jogjakarta, Selasa (8/5).

Inklusif: (ki-ka) Henry Feriadi, Ruard Ganzevoort, Muhammad Machasin pada konferensi Pendidikan Agama Inklusif III, di kampus UKDW Jogjakarta, Selasa (8/5).

JOGJA – Memiliki tradisi panjang – meski berbeda – untuk mengakomodasi kemajemukan, Indonesia dan Belanda kini menghadapi berbagai bentuk intoleransi. Konsorsium Belanda-Indonesia untuk Hubungan Muslim-Kristen pun menggelar konferensi guna mengembangkan pendidikan agama inklusif di kedua negara, di kampus UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) Jogjakarta, Selasa (8/5).

“Pendidikan agama di Indonesia telah diajarkan sejak pendidikan dasar, bahkan negara ini disebut-sebut sebagai negara relijius dan toleran, namun dalam kenyataannya menunjukkan sifat dan sikap yang berlawanan. Karena itulah pentingnya dikembangkannya pendidikan agama inklusif,” ujar Rektor UKDW, Henry Feriadi, di hadapan peserta konferensi Pendidikan Agama Inklusif III itu.

Konsorsium kedua negara tersebut berpandangan, pendidikan inklusif merupakan unsur yang sangat penting dalam upaya mengembangkan masyarakat yang pluralis, yang dapat menghidupkan dan mempertahankan kemampuan hidup bersama di antara kelompok-kelompok yang berbeda. Pendidiikan agama inklusif dimaknai secara luas meliputi pendidikan formal dan non formal, dalam lingkungan komunitas seagama atau lintas-agama.

Terlepas dari adanya tantangan terhadap etos hidup bersama, konferensi ini sebagaimana konferensi sebelumnya, menggarisbawahi telah adanya banyak inisiatif dan best practice dalam pendidikan agama inklusif di Indonesia maupun Belanda. Cerita-cerita terbaik itulah yang diungkapkan dalam konferensi ini. Langkah selanjutnya yang telah direncanakan, memperkuat dan mempromosikan praktik-praktik terbaik itu, serta saling bertukar pengalaman antara Belanda dan Indonesia.

Sebelum konferensi ini, pada 2016 telah diadakan konferensi yang pertama di Ambon, dilanjutkan dengan pertemuan pakar di Amsterdam pada 2017. Sebagian materi yang dipaparkan dalam konferensi kali ini berasal dari makalah-makalah yang merupakan tindak lanjut dari dua konferensi sebelumnya dan akan diterbitkan dalam dua bahasa Indonesia dan Inggris pada 2018 dan 2019.

Melibatkan akademisi maupun praktisi pendidikan, konferensi ketiga ini menampilkan beberapa pembicara selaku narasumber. Antara lain Muhammad Machasin dari UIN Suka Jogjakarta, Ruard Ganzevoort (VU, Amsterdam), Suhadi (UIN Suka), Otto Adi Yulianto (Interfidei), Ibnu Burdah (UIN Suka), Rachel Iwamony dan Nancy Souisa (UKIM Ambon), Pdt Asyer Tandapai (STT GKST Tentena, Poso), Sicillia Leiwakabessy (Yayasan Cahaya Guru), dan Fahrur Razi (CRCS UGM). (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan