Pendidikan Membangun Jalan Buntu Bagi Dirinya Sendiri

Puncak peringatan dies natalis ke-55 UKDW, di kampus setempat, Selasa (31/10)

Puncak peringatan dies natalis ke-55 UKDW, di kampus setempat, Selasa (31/10)

JOGJA (jurnaljogja.com) – Pendidikan tengah dibuat sibuk membangun pikiran-pikiran yang secara tak disadari telah menjadi penjajah bagi dirinya sendiri, sementara persoalan-persoalan besar yang bertebaran di sekitarnya seperti kemiskinan, degradasi lingkungan, disparitas, keterbalakangan, ketidakadilan, hanya diletakkan sebagai topik-topik riset parsial berjangka pendek atas nama proyek penelitian berdana hibah.

“Pendidikan telah dengan sengaja mmbuat dirinya buta dan membangun jalan buntu bagi dirinya sendiri,” ujar Guru Besar Departemen Arsitektur dan Perencanaan Kota, Fakultas Teknik UGM, Prof Ir Sudaryono Sastrosasmito MEng PhD, saat menyampaikan orasi ilmiah pada puncak acara dies natalis ke-55 UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) Jogjakarta, di kampus setempat, Selasa (31/10).

Pendidikan, lanjut Sudaryono, telah diletakkan pada posisi inferior di bawah politik dan ekonomi liberal, sehingga arah pendidikan harus mengikuti arah yang telah digariskan olehnya. ” Pendidikan telah kehilangan daya pandunya, daya ubahnya, dan daya transformatifnya karena pendidikan telah dengan sengaja menjerumuskan anak-anak bangsa menjadi manusia berakal budi instrumentalis.”

Ia pun mencontohkan, praktik akal budi instrumentalis bisa ditmui pada apa yang akhir-akhir ini populer dengan sebutan smart technology, yang sudah meluas menjadi smart city, smart village, smart governance, smart building, dan smart-smart lainnya. “Inisiator sekaligus sponsir tahap-tahap awal diskusi mengenai topik smart itu tentu saja pihak industri. Belakangan lembaga-lembaga pendidikan tinggi merayakannya dalam bentuk seminar-seminar dan workshop,” katanya.

Lembaga-lembaga pendidikan tinggi yag tidak ikut merayakan dianggap tidak mengikuti state of the art keilmuan, alias ketinggalan jaman. ” Dengan demikian, pendidikan dengan sukacita dan sukarela telah memasrahkan dirinya menjadi instrumen bagi industri,” tandas Sudaryono.

Karenanya, pendidikan harus berani meletakkan kredo pengabdian kepada masyarakat sebagai visinya, yang akan dicapai melalui misi pendidikan dan penelitian. “Dengan meletakkan kredo pengabdian kepada masyarakat di depan pintu penyelenggaraan pendidikan, maka pendidikan akan menjadi kekuatan transformatif bagi bangsa dan negara,” papar Sudaryono lebih jauh.

Rektor UKDW Ir Henry Feriadi MSc PhD mengemukakan, setiap mahasiswa, dosen, serta karyawan diharapkan mengalami transformasi hidup tak hanya menjadi lebih pintar namun juga bijak dan beriman. “Ketika merenungkan kembali perjalanan 55 tahun terakhir ini akan tampak jejak-jejak perjuangan komunitas pembelajar yang bersemangat reformatif dan insklusif dalam mengembangkan kualitas pendidikan, membangun kemandirian dan membagikan pelayanan kasih hingga semakin berperan menjadi universitas Kristen yang unggul dan terpercaya.” (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan