Pendidikan Tinggi Bukan Pabrik Manusia Pemegang Ijazah

Rektor UKDW, Ir Henry Feriadi MSc PhD

Rektor UKDW, Ir Henry Feriadi MSc PhD

JOGJA – Tantangan terberat perguruan tinggi bukan bersaing dengan kampus-kampus lain karena sejatinya di era seperti ini tak ada yang benar-benar bersaing. Hanya saja diharapkan semoga pendidikan tinggi tidak hanya menjadi pabrik manusia yang memegang ijazah.

“Pendidikan tinggi harus menjadi tempat menyiapkan manusia-manusia berkualitas yang akan membawa dunia ke arah yang lebih baik,” tandas Corporate Practitioner, AC Mahendra K Datu, saat menyampaikan orasi memperingati Dies Natalis ke-56 UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) Jogjakarta, di kampus setempat, Rabu (31/10).

Dengan motto Kreatif dan Inovatif mengembangkan Duta Wacana yang inspiratif, UKDW jelas memasuki sebuah medan laga yang sangat serius. “Menjadi kreatif itu sudah pasti, sudah wajib, karena sebagai citra dari Sang Pencipta, kita, manusia, adalah co-creator. Di dalam diri kita sudah ada spirit mencipta,” ujar Mahendra.

Di sisi lain, menjadi inovatif, sebuah pilihan dan daya upaya. Bila kita menyadari, kita makhluk yang dari asalnya memang didesain untuk kreatif, maka pilihan menjadi inovatif menjadi lebih mudah. “Menjadi inovatif sebenarnya hanya memerlukan tiga hal, rasa ingin tahu, imajinasi, dan yang paling penting punya masalah, dan masalahnya besar sekali,” tutur Mahendra.

Industrial engagement, imbuh Mahendra, menjadi keharusan baru, sebuah new normal. Tak mungkin universitas bergerak tanpa kemitraan dengan industri. Industrilah yang lebih jeli melihat ke arah mana bisnis dan perekonomian bergerak, dan kampus-kampus dengan best-brains membantu industri membangun formula-formula baru berbisnis dan pada akhirnya membuat banyak kebaikan bagi masyarakat.

Cara termudah menjalankan industrial engagement, lanjut lulusan Harvard University, itu dengan mengirimkan mahasiswa akhir sebelum skripsi untuk magang, dengan keleluasaan perusahaan untuk ‘meminang’ mereka saat masih magang.

“Universitas juga perlu berinvestasi dalam pengembangan SDM, karena mereka pendorong utama untuk peningkatan berbagai hal di universitas: kurikulum, cara men-deliver subjects, bermitra dengan SDM-SDM lain dari industri dan berimajinasi untuk membuat konsep solusi-solusi atas masalah-masalah riil di industri,” tandas Mahendra.

Rektor UKDW, Ir Henry Feriadi MSc PhD mengemukakan, memaknai dies natalis, Duta Wacana diingatkan kembali ke visi mulianya untuk turut menghadirkan kemerdekaan, keadilan, dan kesejahteraan berdasarkan kasih di tengah-tengah masyarakat pluralistik Indonesia yang sedang menghadapi ancaman perpecahan, kebencian, ketidakadilan, kemiskinan.

“Tekad kita bersama, sivitas akademika dapat semakin kreatif dan inovatif mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni yang selalu berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keutuhan ciptaanNya. Tetaplah semangat untuk berjuang tak kenal lelah menjadikan Duta Wacana yang inspiratif,” tandas Henry. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan