Penelitian Harus Berorientasi Produk

IMG_20170212_174659
  Prof Dr Achmad Mursidi MSc Apt pada milad ke-13 Pascasarjana UAD.
JOGJA – Lembaga pendidikan tinggi memiliki peran strategis untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan meningkatkan kualitas iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), guna meningkatkan harkat dan martabat manusia. Penelitian menjadi salah satu langkah yang harus digalakkan untuk memenuhi peran tersebut.
“Tentu penelitian yang dilakukan harus berorientasi produk. Jangan hanya berhenti menjadi sebatas laporan, atau berhenti di rak perpustakaan saja,” pesan Rektor UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Dr Kasiyarno MHum, pada peringatan milad ke-13 Pascasarjana UAD, di gedung Islamic Centre UAD, Selasa (7/2).
Melalui penelitian yang berorientasi produk, yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, bangsa ini tak akan disepelekan bangsa lain. “Jadi sangat penting bagi lembaga pendidikan tinggi untuk mampu mengembangkan penelitian yang bermanfaat dan implementatif,” tandas Kasiyarno.
Direktur Pascasarjana UAD, Prof Dr Achmad Mursidi MSc Apt menegaskan, kualitas program Pascasarjana ditunjukkan tak hanya dalam pengelolaan akademik dan layanannya, namun juga pada hasil-hasil riset yang memberikan kontribusi pada masyarakat dan lulusan yang mampu berperan sebagai agen perubahan yang lebih baik dalam masyarakat.
Pertumbuhan animo dari tahun ke tahun, lanjutnya, relatif konstan meski pada beberapa program studi ada peningkatan rasio seleksi, yakni pada prodi farmasi dan psikologi profesi. Jumlah mahasiswa pascasarjana saat ini tercatat 794 orang.
Rata-rata IPK (indeks prestasi kumulatif) lulusan pada tiga tahun terakhir relatif tinggi, yakni 3,51 dengan masa studi cukup baik 2,51 tahun. “Meski demikian, ada beberapa mahasiswa yang memiliki masa studi relatif panjang,” papar Mursidi.
Dalam beberapa aspek, Pascasarjana UAD masih perlu ditingkatkan. Misalnya, jumlah ketersediaan dosen seiring dengan perkembangan program studi. “Perlu ditingkatkan pula mekanisme guna mendorong studi lanjut dosen S2 ke S3, sharing dosen antar-program studi, agar proses pembelajaran berjalan lebih baik,” katanya kemudian.
Jumlah Guru Besar yang ada saat ini, ujar Mursidi mengakui, re;atif belum tersebar merata di setiap program studi. “Ini menjadi indikasi masih lambatnya regenerasi dosen dalam kepangkatan akademik,” tuturnya lebih jauh.
Dari 64 dosen yang ada, sebesar 65 persen masih berjabatan akademik lektor ke bawah. “Doktor-doktor baru yang telah menyelesaikan studi menjadi bagian penting untuk difasilitasi dan didorong agar meraih jabatan fungsional yang lebih tinggi. Terutama terkait dengan semakin ketatnya aturan kepangkatan dosen saat ini,” saran Mursidi. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan