Pengelolaan Zakat Masuk Dunia Digital

Bambang Sudibyo (tengah)

Bambang Sudibyo (tengah)

JOGJA – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) terus melakukan inovasi. Salah satunya, proses digitalisasi dalam meningkatkan jumlah dana zakat. Dilakukan mulai dari penyediaan sistem aplikasi untuk memperluas jangkauan, pelayanan, penghimpunan, hingga pendistribusian dana zakat ke mustahiq (penerima zakat).

“Sekarang sudah era digital. Yang tidak ikut digitalisasi pasti tersingkir. Termasuk Baznas,” kata Ketua Baznas Prof Dr Bambang Sudibyo MBA, di sela The 2nd International Conference of Zakat: Zakat and the Development of Digital Finance, di UGM, Kamis (15/11).

Baznas merupakan lembaga keuangan syariah yang dikelola pemerintah dan daerah. Tren yang terjadi sekarang ini hampir semua lembaga keuangan melakukan proses digitalisasi.

Digitalisasi akan mendukung peran Baznas dalam proses transparansi dan akuntabilitas ke masyarakat. Banyak Baznas di daerah yang sumberdaya manusianya terbatas dan banyak yang belum bisa membuat laporan keuangan. “Kami akan membangun sistem laporan keuangan daerah tanpa harus minta ke mereka tapi melalui sistem,” kata Bambang.

Angka fantastis dikelola Baznas. Pada 2017 saja jumlah zakat yang dikelola Rp 6,244 triliun. Dana tersebut masih sedikit dibandingkan dengan peluang potensi tumbuhnya dana zakat yang bisa naik menjadi tiga persen dari nilai PDB (produk domestik bruto).

Masih jauh dari nilai potensi intensif pajak yang seharusnya bisa Rp 203 triliun jika mengacu dari insentif pajak. “Sebab dana zakat yang disalurkan ke Baznas bisa mengurangi nilai pajak, apabila pemerintah meniru kebijakan pemerintah Malaysia yang mewajibkan masyarakat membayar zakat sama halnya kewajiban membayar pajak,” ujar Bambang.

Seharusnya zakat dikelola seperti pajak. Terutama dalam pengumpulannya. Apabila membayar zakat maka akan mengurangi pembayaran pajak secara langsung. Untuk merealisasikan itu perlu ada revisi UU 23/2011 tentang Pengelolaan Zakat, dan UU 36/2008 tentang Pajak Penghasilan.

“Apabila kedua undang-undang tersebut direvisi, jumlah zakat akan naik sekitar lebih dari tiga persen dari PDB nasional atau sekitar empat ratusan triliun rupiah,” tandas Bambang.

Direktur Pusat Kajian Strategis Baznas, Irfan Syauqi Beik menyatakan, meski masuk ke dunia digital tetapi peran konvensional tetap ada. Penggunaan digital finance membuat operasional pengelolaan zakat menjadi lebih efisien karena adanya pengurangan biaya transaksi.

“Baznas juga bekerjasama dengan berbagai e-commerce yang sering digunakan masyarakat dalam bertransaksi. Juga tengah fokus mengembangkan teknologi layanan zakat berbasis AI (artificial intelligence),” kata Irfan. (ful)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan