Pengembangan Riset Tantangan UII Berikutnya

Milad: Rektor UII, Fathul Wahid (kiri berdiri), menyampaikan laporan perkembangan 'Khidmat UII untuk Bangsa', pada Sidang Terbuka Senat Milad Ke-76 UII, di kampus setempat, Senin (4/4).

Milad: Rektor UII, Fathul Wahid (kiri berdiri), menyampaikan laporan perkembangan ‘Khidmat UII untuk Bangsa’, pada Sidang Terbuka Senat Milad Ke-76 UII, di kampus setempat, Senin (4/4).

JOGJA – Sebagai salah satu universitas tertua di Indonesia, UII (Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta tahun ini memperingati milad ke-76. Berbagai kemajuan dan keunggulan sudah dicapai. Namun pengembangan riset yang berdampak besar, dan promosi kebaikan melalui dakwah islamiah dirasakan masih menjadi tantangan berikutnya.

“Berkhidmat kepada bangsa dan dunia, rekognisi internasional menjadi tema besar yang diamanahkan Pengurus Yayasan Badan wakaf kepada kepemimpinan universitas periode ini,” ujar Rektor UII, Fathul Wahid ST MSc PhD, pada Sidang Terbuka Senat Milad Ke-76 UII, di kampus setempat, Jalan Kaliurang Km 14,5 Jogjakarta, Kamis (4/4).

Beragam ikhtiar, lanjut Fathul, telah dilakukan untuk mencapai amanah yayasan tersebut. “Mulai dari pertukaran staf dan mahasiswa, kolaborasi internasional, gelar ganda, serta akreditasi internasional. Namun, pengembangan riset berdampak besar dan promosi kebaikan melalui dakwah islamiah masih menjadi tantangan kami ke depan,” katanya.

Menghadirkan mahasiswa internasional, UII pada 2019 ini mengenalkan skema beasiswa future global leaders. Hanya saja masih menemui tantangan besar untuk meningkatkan kerjasama tersebut. “Fasilitas penginapan atau asrama untuk mahasiswa asing menjadi salah satu tantangan tersebut, yang masih perlu diupayakan realisasinya,” tandas Fathul.

Dosen FK UII, Dr dr Betty Ekawati Suryaningsih SpKK FINSDV, pada kesempatan yang sama menyampaikan pidato akademik bertajuk Menjaga Pola Hidup Sehat, Memperlambat Proses Penuaan Kulit, merupakan Bentuk Amaliah Islamiah.

Penuaan, menurut Betty, merupakan proses alamiah yang akan terus berlanjut sesuai perjalanan usia disertai menurunnya fungsi organ dalam, organ pendengaran, penglihatan, dan kulit. “Semua proses tersebut tak dapat dihentikan namun proses menuanya dapat diperlambat oleh berbagai anti-ageing,” katanya.

Semua anti-ageing meski dengan merek dan harga yang mahal tak akan berhasil tanpa disertai pola hidup sehat. “Melalui pola makan, olahraga, berpikir positif, senyum dan bersyukur, semua manifestasi penuaan dapat diminimalkan terutama pada kulit sehingga kulit menua dalam keadaan sehat,” jelas Betty.

Kulit yang sehat, papar Betty yang juga berpraktik di Poli Kulit dan Kelamin beberapa rumah sakit di Jogja itu, akan mengarah pada kesehatan mental dan emosional yang lebih baik dan pada akhirnya berdampak pada hubungan sosial yang positif. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan