Penting Kompetensi Penyuluh di Era Revolusi Industri 4.0

Diklat AMT: Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih membuka Diklat AMT bagi tenaga penyuluh sekaligus pendamping IKM asal 22 provinsi, di Jogjakarta, selama lima hari, hingga Jumat (14/12).

Diklat AMT: Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih membuka Diklat AMT bagi tenaga penyuluh sekaligus pendamping IKM asal 22 provinsi, di Jogjakarta, Senin (10/12). Diklat berlangsung selama lima hari, hingga Jumat (14/12).

JOGJA – Kementerian Perindustrian terus berupaya melakukan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia pelaku IKM sebagai salah satu syarat pemberdayaan IKM dalam Revolusi Industri 4.0. Melalui pelatihan maupun pendampingan. Karena itu, dibutuhkan pembina industri yang memiliki pengetahuan dan kemampuan mumpuni untuk membimbing IKM.

Peningkatan kompetensi sumberdaya manusia pelaku IKM, salah satu syarat pemberdayaan IKM dalam Revolusi Industri 4.0. Ditjen IKM selaku instansi pembina PFPP (Pejabat Fungsional Penyuluh Perindag) memiliki visi besar, menjadikan PFPP sebagai konsultan bagi IKM dengan memberikan layanan penyuluhan secara profesional di sektor industri.

“Upaya yang ditempuh untuk mewujudkan visi, itu dengan membina dan mengembangkan secara berkesinambungan agar PFPP mempunyai jiwa entrepreneurship, profesional, dan memiliki spesialisasi atau bidang kepakaran,” ujar Direktur Jenderal IKM, Kemenperin, Gati Wibawaningsih, di hadapan peserta Pendidikan dan Pelatihan Achievement Motivation Training (AMT), di Jogjakarta, Senin (10/12).

Diklat AMT itu diikuti oleh 28 orang pejabat fungsional penyuluh perindag dari 22 provinsi/kabupaten/kota. Berlangsung hingga Jumat (14/12), materi pelatihan akan diisi oleh pengajar dari GAMA Konsultan. “Ini merupakan salah satu upaya meningkatkan kompetensi sekaligus lebih menguatkan mental penyuluh,” jelas Gati.

Peningkatan kompetensi, lanjut Gati, sangat penting agar mampu menghadapi perubahan di era revolusi industri 4.0 ini. “Era atau revolusi itu tidak perlu ditakuti, asalkan kita siap menghadapinya sekaligus siap untuk bersaing,” katanya seraya menuturkan, revolusi industri 4.0 tak sepenuhnya disruptif karena membuka pula kesempatan bagi sedikitnya 17 juta tenaga kerja.

Di tengah banyaknya perubahan pada era revolusi industri 4.0 ini, menurut Gati, hanya yang tangguh, penuh inovasi, adaptif, dan pintar menjalin kolaborasi yang akan bertahan. “Karena itu diperlukan penyuluh yang lebih profesional agar mampu mendampingi secara optimal kepada IKM,” tandasnya.

Diperlukan penyuluh, pendamping yang kompeten dan profesional agar mampu membina hingga IKM (industri kecil menengah) mampu memiliki produk yang bagus. IKM perlu spesialisasi. “IKM yang memproduksi gula semut di Kulonprogo, DIY ini merupakan contoh yang cukup bagus karena sudah berkualitas ekspor pula,” tutur Gati kemudian.

Pada hari yang sama, dilangsungkan pula FGD (focus group discussion) tentang gula semut. Di DIY, gula semut merupakan salah satu produk andalan dari kabupaten Kulonprogo. Bahkan beberapa IKM sudah mampu mengekspor produk tersebut.

“Perlu dipertahankan jaringan yang sudah ada saat ini. Kepala dinas setempat harus mempunyai data IKM binaannya. Siapa saja yang sudah mampu mengekspor dan mana saja yang masih belum serta memerlukan pendampingan lebih jauh,” pesan Gati. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan