Pentingnya Edukasi Kereta Api Sejak Dini

Menggambar: Manager Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta, Eko Budianto (berdiri pegang mic), di tengah anak-anak peserta lomba menggambar dan menulis cerpen, di lobi kedatangan pintu timur Stasiun Tugu Jogjakarta, Minggu (18/11).

Menggambar: Manager Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta, Eko Budianto (berdiri pegang mic), di tengah anak-anak peserta lomba menggambar dan menulis cerpen, di lobi kedatangan pintu timur Stasiun Tugu Jogjakarta, Minggu (18/11).

JOGJA – Banyak aspek perkeretaapian yang perlu diketahui masyarakat. Karena itu PT KAI (Kereta Api Indonesia) pun mengenalkan sekaligus mengedukasi sejak dini, kepada anak-anak, tentang segala sesuatu berkaitan dengan perkeretaapian itu.

“Kali ini kami menggelar lomba menggambar, baca puisi, hingga menulis cerita pendek. Sekaligus sebagai penutup rangkaian acara Book Fair yang telah digelar sejak sepekan sebelumnya,” ungkap Manager Humas PT KAI Daop 6 Jogjakarta, Eko Budianto, di sela lomba menggambar dan menulis cerpen, di lobi kedatangan pintu timur Stasiun Tugu Jogjakarta, Minggu (18/11).

Sebanyak 34 anak mengikuti lomba menggambar di atas tas berbahan kain blacu dan lima anak tercatat sebagai peserta penulisan cerita pendek bertemakan pengalaman liburan bersama teman. “Saya senang mengikuti lomba ini. Dan saya akan menulis tentang liburan di Bromo,” ujar Rasti, siswa klas V SD Kanisius Kotabaru, Jogjakarta.

Teman-teman seusia Rasti, bahkan banyak yang jauh lebih kecil, pun tampak antusias mengikuti lomba menggambar di belakang tas dengan bahan kain blacu tersebut. Mereka pun tak dibatasi tema tertentu. Bebas menggambar apa saja di atas kain blacu 30 x 30 cm itu.

Eko mengemukakan, kegiatan kali ini merupakan penghujung acara Book Fair yang telah digelar sejak 13 November 2018 lalu. “Pameran buku serta berbagai lomba tersebut sekaligus dimaksudkan sebagai sarana edukasi, terutama bagi anak-anak tentang perkeretaapian,” katanya.

Termasuk di dalam edukasi itu, bagaimana cara berkeretaapi secara benar dan baik, bagaimana menghadapi rangkaian kereta api yang sedang berjalan. Dilarang melempar gerbong, dilarang swafoto di rel kereta api, maupun pengetahuan atau pendidikan seputar kereta api lainnya.

“Melalui edukasi sejak dini, kami mengharapkan anak-anak itu kelak akan menjadi pionir untuk memajukan kereta api di tanah air. Dan langkah kali ini sangat efektif. Terbukti antusiasme maupun apresiasi dari berbagai pihak yang tidak sedikit,” tandas Eko.

Melalui kegiatan tersebut, termasuk pameran buku, diharapkan menjadikan stasiun tak hanya sebagai tempat turun dan naiknya penumpang menggunakan kereta api, tapi juga sebagai tempat edukasi sekaligus sebagai area hiburan bagi semuanya. “Jika kegiatan ini dinilai sukses, kami rencanakan akan digelar rutin setiap tahun,” tutur Eko kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan