Peradaban Islam Kembali Mendunia, Mungkinkah?

Peradaban Islam: (kiri-kanan) Dr Yoyo, Suwarsono Muhammad, Prof Dr Musa Asy'arie, dan moderator Dr Abdul Choliq Hidayat, pada acara bedah buku tentang peradaban Islam, di Pascasarjana UAD Jogjakarta, Sabtu (3/2).

Peradaban Islam: (kiri-kanan) Dr Yoyo, Suwarsono Muhammad, Prof Dr Musa Asy’arie, dan moderator Dr Abdul Choliq Hidayat, pada acara bedah buku tentang peradaban Islam, di Pascasarjana UAD Jogjakarta, Sabtu (3/2).

JOGJA – Peradaban Islam pernah mendominasi dunia. Hegemoni itu kemudian surut seiring perkembangan peradaban Barat. Mencermati perubahan dan perkembangan dunia saat ini, seorang ekonom Muhammadiyah mereka-reka mungkinkah peradaban Islam mampu kembali mendunia? Terutama dari sisi ekonomi melalui konsep kapitalisme religius.

Suwarsono Muhammad, ekonom itu, mengaku terinspirasi dengan dominasi Amerika Serikat melalui kapitalisme liberal yang mampu ‘mendikte’ dunia. Sempat mengalami krisis pada 2007 lalu, tapi secara perlahan bangkit kembali belakangan ini.

Begitu pula dengan peradaban Tiongkok yang pernah menempati posisi sebagai salah satu pemegang hegemoni dunia bersama India dan Imperium Islam pada sekitar abad 13-14 M. Pernah meredup tapi hanya dalam waktu 50 tahun sejak 1970-an, perekonomian Tiongkok mampu berkembang pesat dan mulai kembali ‘menguasai’ dunia hingga kini.

“Belajar dari sejarah Amerika Serikat dan Tiongkok, itu mungkinkah peradaban Islam yang dulu pernah berjaya kini bisa kembali lagi? Itu yang menarik saya untuk kemudian menuangkannya dalam sebuah buku,” ujar Suwarsono saat bedah buku karyanya bertajuk Arab, Kuno dan Islam: Dari Kapitalisme Perdagangan Ke Kapitalisme Religius, di kampus Pascasarjana UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Sabtu (3/2).

Buku tersebut, jelas Suwarsono, merupakan satu dari serangkaian seri untuk mengenali perjalanan peradaban Islam, menggunakan pendekatan sejarah terapan, ekonomi politik, dan dengan perspektif strategi.

Selaku pembahas, Ketua Program Doktor Pendidikan Islam, Demokrasi, dan Multikulturalisme Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof Dr Musa Asy’arie mengemukakan, kapitalisme religius yang digagas Suwarsono sebenarnya identik dengan saripati sila-sila Pancasila.

“Jika ditelaah, lima sila Pancasila sebenarnya sangat sesuai dengan dalil-dalil ekonomi syariah. Hanya saja sekarang ini banyak salah kaprah di Indonesia. Banyak penggunaan jargon agama tapi tetap saja praktik ekonomi syariah membebani masyarakat,” tutur Musa Asy’arie.

Kalau saja Pancasila diterapkan secara konsekuen, tak akan ada misalnya kesenjangan sosial seperti sekarang ini. “Ada masalah fundamental bangsa ini. Pancasila seperti kepala tanpa badan. Pun menjadi ruang kosong yang dapat diisi apa saja oleh kekuatan politik konspiratif,” papar Musa Asy’arie.

Agama, imbuh Musa Asy’arie, dimaknai sebatas formalisme sehingga tak bisa menjadi ruh ekonomi politik. “Kerakyatan tidak dipimpin hikmah kebijaksanaan tetapi dipimpin uang kekuasaan dengan money politics,” kritik guru besar yang pernah menjabat sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta itu.

Pembahas lain, dosen Magister PAI UAD Dr Yoyo bin H Ardi Tahir, mengaku pesimis dengan kebangkitan kembali peradaban Islam. “Bahkan Arab saat ini pun tak bisa lagi dijadikan role model ekonomi,” tandasnya sambil membeberkan berbagai argumen maupun fakta-fakta perkembangan Arab maupun dunia saat ini. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan