Perang Informasi Campurkan Fakta, Isu, Hoax, dan Fitnah

IMG_20161202_174334
 Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
Wisudawan terbaik program Sarjana dan Diploma-3 IST Akprind.
JOGJA – Kita berada pada dunia yang berubah begitu cepat saat ini. Manusia memproduksi ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kecepatan yang tidak pernah ada pada era sebelumnya. Namun teknologi bukan hanya membawa berkah, tetapi juga masalah.
“Dampak kemajuan tekonologi informasi, misalnya, sulit mencari informasi yang benar di tengah banjir informasi. Bahkan perang informasi telah mencampurkan antara fakta, isu, hoax dan fitnah,” ujar Rektor IST Akprind Jogjakarta, Dr Ir Amir Hamzah MT, di hadapan 205 wisudawan/wati kampus tesebut, di Hall B JEC (Jogja Expo Centre) Jogjakarta, Rabu (30/11).
Contoh lain, lanjut Amir, ditemukannya plastik pada akhir abad ke-19, kota-kota dunia saat ini memproduksi sampah plastik kira-kira 1,3 miliar ton setiap tahun yang siap mencemari tanah, air, udara, bahkan lautan, dan menimbulkan berbagai penyakit baru.
Jaringan internet pada 2016 ini memproduksi data 1,1 Zetta Byte per tahun, setara dengan pertumbuhan informasi 33 Terra byte per detik memaksa manusia modern menatap layar TV atau Handpone lebih dari 10 jam per hari. Suatu kondisi yang memicu berbagai masalah kesehatan mata dan syaraf. Penyakit baru bernama CVS (Computer Vision Syndrome), meliputi pandangan kabur, sakit kepala, dan susah konsentrasi menjangkiti 150-200 juta karyawan AS, yang setiap saat menatap layar komputer.
“Kemajuan pesat sains teknologi yang kering nilai agama telah ikut mendorong dunia pada penderitaan, penindasan bahkan penjajahan gaya baru. Akibat liberalisasi ekonomi, negeri kita yang kaya raya ini, tengah menanggung beribu masalah tiada habisnya,” tutur Amir kemudian.
Dunia pendidikan dan perguruan tinggi di Indonesia juga masih menemui banyak masalah kualitas pelayanan dan kualitas SDM. Data forlap 2016 menunjukkan, jumlah perguruan tinggi di Indonesia saatini ada 4.495 PTN/PTS. Lebih banyak dari jumlah perguruan tinggi di seluruh Eropa, serta lebih banyak dari jumlah perguruan tinggi di Tiongkok.
Namun dari ribuan perguruan tinggi di Indonesia tersebut, hanya dua yang masuk dalam perguruan tinggi kelas dunia. Index pembangunan pendidikan Indonesia menurut survei UNESCO 2011 berada pada posisi 69 dari 127 negara. Berada di bawah Brunei (34) dan Malaysia (65). “Sungguh perlu perjuangan sangat keras untuk mengatasi ketertinggalan tersebut,” tandas Amir.
Sedangkan dari jumlah wisudawan/wati tersebut, papar Amir, terdiri dari 178 orang lulusan program Sarjana dan 27 orang lulusan program Diploma-3. Sebanyak 19 wisudawan, 18 Sarjana dan satu orang Diploma-3, berhasil lulus dengan predikat Cum Laude, dengan rata-rata IPK 3,73 dan masa studi 4 tahun 2 bulan.
Asti Widyaningsih dari program studi Teknik Informatika, dengan IPK 3,99 dan masa studi 4 tahun persis, menjadi lulusan terbaik pertama program sarjana. Untuk program Diploma-3, lulusan terbaik pertama, Bagus Setya Pramuji,  dari program studi Teknik Elektronika, dengan IPK 3,51 dan masa studi 3 tahun 2 bulan.
Pada wisuda kali ini lulus pula tujuh wisudawan dari beasiswa IST AKPRIND dan empat dari beasiswa Bidik Misi. “Mereka juga berhasil lulus dengan predikat Cum Laude,” tutur Amir lebih jauh. (rul)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan