Perasaan Ikut Pengaruhi Harga Jual UKM

IMG_20160809_232810

Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja

Sekretaris Program Studi Akuntansi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Nugraheni Rintasari SE MSc.

 

JOGJA – Menentukan harga jual, paling besar dipengaruhi oleh harga pokok penjualan terdiri dari harga pokok produksi. Di dalamnya sudah tercakup biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead, biaya pemasaran, dan biaya administrasi. Tetapi dalam praktiknya, banyak faktor yang juga dipertimbangkan oleh pelaku usaha dalam menentukan harga jual.

“Paling tidak, begitulah hasil penelitian terhadap pelaku UKM di kota Jogja,” jelas Sekretaris Program Studi Akuntansi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Nugraheni Rintasari SE MSc, kepada wartawan, di kampus setempat, Selasa (9/8).

Melalui penelitian berjudul ‘Faktor-Faktor yang Menjadi Pertimbangan Pelaku UKM (Usaha Kecil Menengah) Di Kota Yogyakarta Dalam Pengambilan Keputusan Menentukan Harga Jual, terhadap 356 responden UKM pada 2013, Rintasari mengelompokkan UKM menjadi lima bidang, Kerajinan dan Umum, Kimia dan Bangunan, Logam dan Elektonika, Pengelolaan Pangan, serta Sandang dan Kulit.

“Hasil penelitian menjelaskan, pelaku UKM di kota Jogja mempertimbangkan informasi biaya, waktu pembelian, kedekatan emosional, risiko produk, dan naluri bisnis untuk menetapkan harga jual,” papar Rintasari.

Mengenai informasi biaya, imbuhnya, lebih 50 persen responden telah mengetahui yang disebut biaya produksi, biaya bahan baku pembuatan produk, biaya overhead, besarnya keuntungan, bahkan 71 persen telah melakukan pencatatan keuangan sederhana.

Hasil penelitian juga menjelaskan, 16 persen pelaku UKM menurunkan harga untuk pembeli pertama dan hanya 10 persen yang mau menurunkan harga ketika stok tinggal sedikit. Untuk kedekatan emosional, 30 persen pelaku UKM menurunkan harga jika pembeli masih saudara, 20 persen jika pembeli tetangga, dan 17 persen menaikkan harga jika pembeli orang asing.

Sebesar 36 persen pelaku UKM menurunkan harga jika produk terancam rusak atau kadaluarsa, membedakan harga jika masih baru dengan yang sudah lewat beberapa waktu. “Sedangkan untuk produk yang memiliki garansi, menjadi lebih mahal,” katanya.

Selain itu, 34 persen pelaku UKM menggunakan naluri bisnis dalam bertransaksi. “Menggunakan kata hati jika melayani pembeli. Bahkan tanpa perhitungan. Misalnya jika pembeli ramah, tidak banyak menawar, harga bisa diturunkan,” tutur Rintasari kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan