Perekonomian Syariah Harus Beradaptasi

Syariah: Direktur Eksekutif Asbisindo (Asosiasi Bank Syariah Indonesia) Herbudhi Setio Tomo berbicara di hadapan peserta seminar tentang Keuangan dan Bisnis Syariah dalam menghadapi revolusi industri 4.0, di kampus UMY, Kamis (30/8).

Syariah: Direktur Eksekutif Asbisindo (Asosiasi Bank Syariah Indonesia) Herbudhi Setio Tomo berbicara di hadapan peserta seminar tentang Keuangan dan Bisnis Syariah dalam menghadapi revolusi industri 4.0, di kampus UMY, Kamis (30/8).

JOGJA – Survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) menunjukkan, ada 143,26 juta orang pengguna internet di Indonesia dan 80 persen di antaranya melalui smartphone. Fakta ini menjadi sebuah peluang yang harus diambil berbagai pihak. Tak terkecuali bidang Perbankan Syariah dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

Direktur Eksekutif Asbisindo (Asosiasi Bank Syariah Indonesia) Herbudhi Setio Tomo mengemukakan hal itu di hadapan peserta seminar nasional Peluang dan Tantangan Ekonomi, Keuangan dan Bisnis Syariah dalam menghadapi revolusi industri 4.0, di kampus UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Kamis (30/8).

Ia pun menyampaikan, efek dari revolusi industri itupun harus diikuti. Saat ini tingkat penetrasi internet dalam aktivitas kehidupan masyarakat sebesar 57 persen dan diperkirakan pada 2020 akan mencapai 88 persen. “Hal itu yang kemudian direspon perbankan dengan melakukan berbagai inovasi yang memudahkan nasabah. Misal, membuat aplikasi perbankan mobile,” katanya.

Peluang itu juga berlaku bagi Perbankan Syariah. Mereka harus mampu beradaptasi dengan perubahan dan kemajuan tersebut. “Dibandingkan dengan Malaysia, perkembangan Ekonomi Syariah kita termasuk lambat,” ungkap Herbudhi.

Membicarakan ekonomi syariah, imbuhnya, bukan hanya soal perbankan namun mencakup pula berbagai kegiatan ekonomi makro lainnya dan ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Dalam industri makanan halal dunia, misalnya, pada 2016 jumlah konsumsi makanan halal sebesar 1,245 miliar dolar AS dan Indonesia memiliki tingkat konsumsi makanan halal tertinggi di dunia.

“Sayangnya kita masih berkutat dalam konsumsi dan belum merambah industri produksinya. Ini yang kemudian menjadi peluang ekonomi syariah untuk Indonesia. Apalagi Indonesia juga menjadi salah satu destinasi wisata halal dunia,” papar Herbudhi.

Khusus perbankan syariah, Herbudhi menjelaskan, pangsa pasar industri keuangan syariah terus meningkat. Total aset industri keuangan syariah Indonesia hingga Mei 2018 sebesar 8,38 persen terhadap total keuangan nasional. “Ini menunjukkan ada peluang yang bisa diambil dan kita ditantang untuk meresponnya,” tandasnya.

Salah satu caranya, dengan melakukan sinergi untuk membangun ekosistem ekonomi syariah oleh setiap elemen, meliputi masyarakat, akademisi, media, regulator, dan bank syariah itu sendiri. Untuk aspek masyarakat, misalnya, bagaimana mereka mampu membuka rekening dan melakukan transaksi melalui perbankan syariah. “Salah satu alasan masyarakat kurang berminat dengan bank syariah karena fitur dan pelayanan yang belum sama dengan standar bank konvensional. Ini yang menjadi salah satu tantangan,” papar Herbudhi.

Seminar nasional tersebut sekaligus menandai peresmian nomenklatur baru prodi Ekonomi Syariah FAI (Fakultas Agama Islam) UMY. Dekan FAI UMY, Dr Akif Khilmiyah MAg optimistik, melalui inovasi tersebut UMY mampu berpartisipasi dalam menghasilkan lulusan yang dapat berkontribusi secara positif dalam perekonomian syariah Indonesia. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan