Perguruan Tinggi Jangan Terlena Scopus

Perguruan Tinggi Jangan Terlena Scopus

JOGJA – Perguruan tinggi tak perlu terlalu mendewakan Scopus, indeks publikasi ilmiah internasional. Lebih penting melakukan penelitian maupun penulisan ilmiah yang mampu memberikan jalan keluar bagi permasalahan bangsa saat ini.

“Perguruan tinggi jangan terlena indeks Scopus. Masih banyak masalah di negeri ini, seperti persoalan sampah, energi, hingga defisit anggaran berjalan yang memerlukan solusi,” ujar Kepala L2Dikti (Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi) Wilayah V DIY, Prof Dr Didi Achyari, pada pelantikan rektor baru UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, di kampus setempat, Rabu (9/10).

Masa tugas Dr Kasiyarno MHum sebagai Rektor UAD telah berakhir. Untuk periode berikutnya, 2019-2023, Dr Muchlas MT yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Rektor I, yang akan menjadi rektor baru perguruan tinggi Muhammadiyah itu.

Dukungan negara terhadap berbagai permasalahan bangsa ini sangat terbatas. Karena itu dukungan perguruan tinggi sangat diharapkan. “Sebagai rektor baru, kami yakin pak Muchlas mampu menjawab tantangan yang akan semakin keras yang akan dihadapi perguruan tinggi di era digital ini,” tandas Didi.

Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir MSi meyakini, UAD mampu menghadapi bahkan terus berkembang di tengah perubahan teknologi informasi yang sangat cepat saat ini. “Tentu dengan fondasi nilai-nilai Islami dan ke-Muhammadiyah-an,” katanya seraya menegaskan, teknologi hanyalah instrumen guna menyelesaikan problem bangsa.

Kasiyarno berpesan, agar seluruh sivitas akademika UAD terdiri dari tiga ratusan orang karyawan, tujuh ratusan dosen, dan puluhan ribu mahasiswa, terus menjunjung nama besar Ahmad Dahlan meski harus melaluinya dengan penuh risiko tantangan yang makin berat.

Sebagai rektor baru, Muchlas mengaku, mendapat amanat berat melanjutkan estafet kepemimpinan Kasiyarno. “Kami mengajak semua pihak, akademisi, dan staf di UAD untuk bersama-sama memajukan dan memakmurkan institusi tercinta ini, agar mampu menjadi perguruan tinggi yang leading dalam mencetak intelektual unggul berdaya saing tinggi, berkepribadian Islami, serta memiliki integritas moral dan intelektual.”

Dalam memajukan dan membangun riset, tutur Muchlas kemudian, perlu mengacu pada misi Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017-2045, yakni menciptakan masyarakat Indonesia yang inovatif berbasis Iptek dan menciptakan keunggulan kompetitif bangsa secara global berbasis riset.

“Dengan demikian, kita perlu mengarahkan agar riset-riset yang dilakukan dapat memberikan dampak peningkatan inovasi SDM berbasis iptek yang pada akhirnya dapat meningkatkan martabat bangsa memenangkan persaingan global,” tegas Muchlas. (rul)

Hosting Unlimited Indonesia

Share this post

Post Comment