Perguruan Tinggi Negeri Peringatkan Sekolah Curang

SNMPTN: (kiri-kanan) Wakil Rektor I ISI Jogja I Wayan Dasna, Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM Sri Peni Wastutiningsih, Wakil Rektor I UNY Margana, Kepala Admisi UIN Suka Ridwan, Wakil Rektor UPN 'Veteran' Erhass Effendi menyampaikan penjelasan seputar SNMPTN 2018.

SNMPTN: (kiri-kanan) Wakil Rektor I ISI Jogja I Wayan Dasna, Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM Sri Peni Wastutiningsih, Wakil Rektor I UNY Margana, Kepala Admisi UIN Suka Ridwan, Wakil Rektor UPN ‘Veteran’ Erhass Effendi menyampaikan penjelasan seputar SNMPTN 2018.

JOGJA – Proses penerimaan mahasiswa baru bagi PTN (perguruan tinggi negeri) 2018 telah dimulai dengan pengisian dan verifikasi PDSS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa) sebagai dasar utama penerimaan calon mahasiswa melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk PTN). Jumlah pendaftar SNMPTN tahun ini diyakini meningkat 5-10 persen.

Penerimaan calon mahasiswa melalui jalur SNMPTN murni berdasarkan nilai rapor siswa semester I – V yang tercermin pada PDSS, diisi dan dikirim sekolah. “Karena pertimbangan penerimaan hanya berdasarkan PDSS maka kami menuntut kejujuran pihak sekolah,” ujar Ketua Panlok (Panitia Lokal) 46 DIJ 2018, Margana, yang juga Wakil Rektor I UNY, di kampus setempat, Selasa (16/1).

Lima PTN di DIJ, meliputi UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), UGM (Universitas Gadjah Mada), UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, UPN (Universitas Pembangunan Nasional) ‘Veteran’, dan ISI (Institut Seni Indonesia) telah memiliki parameter masing-masing sehingga pasti akan ketahuan kalau ada sekolah yang mencoba curang dengan mengisi data yang kurang benar.

Jika masih saja ada sekolah yang mencoba curang, masing-masing PTN tak akan segan memberikan peringatan. Pada 2015 lalu UNY mengaku pernah sampai mengundang 30 sekolah guna mencocokkan kebenaran data yang dikirim. Sekolah dengan akreditasi ‘A’ berhak mendaftarkan 50 persen siswa terbaik mereka. Akreditasi ‘B’ 30 persen, akreditasi ‘C’ 10 persen, akreditasi lainnya 5 persen.

“Jika kami menemui ada sekolah yang berulangkali melakukan kecurangan, pasti akan kami peringatkan dan jika sekolah itu masih saja membandel akan kami black list. Sekolah yang masuk daftar hitam, tak diperbolehkan mengikuti SNMPTN pada tahun berikutnya. Tapi, hingga saat ini belum ada PTN yang sampai harus mem-black list sekolah,” papar Margana kemudian.

Penjelasan yang sama juga dikemukakan empat PTN lain. Siapa saja, sekolah, yang mencoba curang pasti ketahuan. Bahkan kementerian pun telah memiliki peta berkaitan dengan tingkat kejujuran sekolah. “UGM juga belum pernah mem-black list. Namun kami pernah mengirim surat kepada sekolah untuk memverifikasi kebenaran data yang dikirim,” ungkap Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, Sri Peni Wastutiningsih.

Jumlah peminat SNMPTN tahun ini diyakini akan meningkat dibandingkan tahun lalu. UGM memperkirakan akan ada kenaikan 5-10 persen jumlah pendaftar. Tahun ini lima PTN di DIJ itu secara total akan menyediakan 5.165 kursi yang bisa diperebutkan calon mahasiswa melalui jalur SNMPTN.

Secara rinci, UGM menyediakan jatah 2.130 kursi melalui jalur SNMPTN. Sedangkan UNY (1.647), UIN Suka (391), UPN ‘Veteran’ (831), dan ISI (166). Pengisian dan verifikasi PDSS telah dimulai sejak 13 Januari hingga 10 Februari 2018. Pendaftaran, 21 Februari – 6 Maret 2018, pengumuman hasil seleksi 17 April 2018, dan pendaftaran ulang 8 Mei 2018. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan