Peringatan Hari Kartini, Para Perempuan Baca Puisi di Tembi

JOGJA (jurnaljogja) – Puisi karya Yuliani Kumudaswari berjudul “100 Puisi Yuliani Kumudaswari” bakal dilaunching dan dibacakan para perempuan pada Peringatan Hari Kartini, di Tembi Rumah Budaya, Bantul-DI Jogjakarta, Jumat (22/4) malam nanti.  Dalam acara
Sastra Bulan Purnama (SBP) edisi ke-55 itu diusung tema ‘Perempuan dan Puisi’.
    Koordinator SBP, Ons Untoro, menjelaskan, pembaca puisi kali ini sengaja dipilih para perempaun bermacam profesi, dari penyiar,  pemain film, perupa, guru, penari, ibu rumah tangga, aktivis, dan lainnya. Mereka seperti Annisa Hertami Kusumastuti, Ardi Susanti, Endah Raharjo, Endah Sr, Gendis Pawestri, Ida Fitri, Savitri Damayanti, Septi Wahana Pintarti, Watie Respati.
    Selain itu, ada lagu puisi yang akan mengolah puisi Yuliani Kumuaswari menjadi lagu, dibawakan olehSri Krishna (Encik) Ia merupakan pelantun lagu puisi yang mumpuni. Tampil pula kelompok musik Jejak Imaji, yang dibawakan sejumlah penyair dan mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
    Satu pertunjukkan disebut Drapen atau drama pendek, sebagai closing dalam acara tersebut, bakal dimainkan oleh seorang aktor senior Liek Suyanto. Liek, selain dikenal sebagai aktor teater, juga sudah tampil dalam banyak judul film dan sinetron. Ia  akan memainkan lakon berjudul ’10 Lubang Peluru di Dadanya’ karya novelis Budi Sarjono. Drama pendek ini akan disutradarai Bambang Darto, aktor teater senior Yogyakarta.
     Dipilihnya 22 April sebagai acara tersebut karena pada saat itu tepat tanggal 14 bulan Jawa, yang berarti pas  bulan purnama. “Dalam penanggalan Jawa,  tanggal 14 bulan Jawa, pada  malam hari sudah memasuki tanggal 15 bulan Jawa. Secara kebetulan, pilihan tanggal itu bertepatan dengan Peringatan Hari Kartini, maka sekaligus SBP memeriahkan Hari Kartini dengan pembacaan puisi oleh para perempuan,” kata Ons.
      100 puisi karya Yuliani  Kumudaswari, semuanya tidak diberi judul, melainkan hanya diberi tanda angka 1 sampai 100 yang diterakan pada setiap puisinya. Dengan cara seperti itu, kemungkinan Yuliani ingin menyampaikan pada publik, bahwa puisi tidak harus selalu diberi judul. “Namun bisa juga Yuliani dalam menulis puisi tidak menuliskan judulnya lebih dulu,” duga Ons seraya menjelaskan bahwa akan disediakan 100 buku puisi bagi mereka yang datang lebih awal di Tembi. (bam)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan