Peringatan Hari Lahir Pancasila, Gunungkidul Hidupkan Budaya ‘Sapa Aruh’

IMG_20170606_151126
GUNUNGKIDUL (jurnaljogja.com) – Keragu-raguan dan menguji ideologi Pancasila dengan  mencoba ideologi baru dinilai sebagai kerjaan sia-sia. Ini karena Pancasila telah teruji melindungi segala perbedaan yang ada di tengah masyarakat Indonesia, dan itu telah terbukti dalam perjalanan sejarah kemerdekaan NKRI.
     Demikian benang merah yang mengemuka dalam sarasehan kebangsaan Forum Lintas Iman (FLI) Gunungkidul-DIJ, Rabu (31/5) malam. Acara diselenggarakan untuk memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Selain sarasehan, FLI juga menggelar serangkaian kegiatan doa bersama dan tumpengan dipusatkan di halaman Gedung DPRD setempat.Acara sarasehan kebangsaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Garuda Pancasila dan pembacaan Ikrar Pancasila, dihadiri Kabag Bimas Polres Gunungkidul AKP Ahmad Fauzi dan para  tokoh agama dan kepercayaan di Gunungkidul, yakni Ustadz Yudi Rahmanto, Pdt Dwi Wahyu Prasetyo, Purwanto (Hindu), Wasiran (Katolik), Sugeng Riyanto (Budha) dan Dono Tiwokromo (penghayat kepercayaan).     Sarasahan kebangsaan dipandu Pdt Wahyu Dwi Prasetyo mengupas budaya “Sapa Aruh” sebagian jawaban gejala lunturnya praktik kehidupan bermasyarakat berdasarkan Pancasila.  
      Terkait dengan digiatkan kembali budaya “sapa aruh”, Sidik Triyono dari GP Ansor NU  menilai langkah ini merupakan peringatan kelahiran Pancasila,  merupakan momentum yang tepat dan sekaligus sebagai tonggak mengingatkan kembali kesepakatan yang dulu pernah dilakukan para pendiri negara dan para bapak bangsa.
    Koordinator FLI Gunungkidul, Aminudin Aziz  mengatakan, peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi momentum penting hidup bernegara anak bangsa yang akhir-akhir ini mulai kendor karena masifnya gerakan rasis dan intoleran. “Akhir-akhir ini kehidupan bangsa kita menjadi terkoyak dengan munculnya gerakan rasis dan intoleran yang merusak tatanan persatuan nasional. Kami ingin, melalui kegiatan ini dapat memperkokoh kembali semangat persaudaraan dan persatuan, ” harapnya.
    Menurut Aziz, keberagaman yang ada di tengah masyarakat seharusnya tidak menjadi potensi perpecahan, tetapi justru sebagai kekayaaan dan kekuatan besar bagi Indonesia yang harus dirawat setiap generasi. Untuk itu, FLI mengajak semua pihak meneguhkan kembali Pancasila sebagai dasar berkehidupan bersama di Indonesia. “Meragukan dan menguji Pancasila hanya akan menjadi kerjaan yang hanya sia-sia. 1 Juni 1945 sudah selesai mendebatkan Pancasila. Tentu yang tidak sepakat Pancasila boleh kabur dan silakan meninggalkan Indonesia,” kata tokoh muda NU Gunungkidul itu.
    Dalam sarasehan tersebut terungkap, dengan menjadi dasar negara, Pancasila akan tumbuhkembang dalam lintas generasi bangsa sebagai dasar pemikiran, sikap, perkataan dan perbuatan dalam merawat kehidupan damai Indonesia. Dan, untuk menghilangkan keragu-raguan atas ideologi Pancasila, masyarakat Gunungkidul mencoba menghidupkan lagi budaya “sapa aruh” (saling menyapa) untuk meningkatkan kepedulian antarwarga, tanpa harus mempersoalkan perbedaan.  Melalui budaya ini diharapkan dapat menghilangkan sekat-sekat solidaritas yang selama ini terhambat oleh pemikiran sempit warga, atas isu perbedaan keyakinan.
    Aktivis FLI,  FX Endro Tri Guntoro menambahkan, Pancasila tidak perlu lagi diuji atau diragukan lagi. Pasalnya, Pancasila sudah final sebagai rumusan dalam mengikat segala bentuk perbedaan yang ada, baik suku, golongan dan adat budaya, maupun perbedaan agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia.
    Menurutnya, sejak Soekarno dan para pendiri bangsa meyakini Pancasila dengan rumusan lima sila sebagai pokok dasar memulai negara ini, tidak ada alasan bagi pemerintah pusat dan daerah memberi ruang gerak kelompok yang ingin mencoba-coba ideologi baru dan merongrong Pancasila. Lahirnya Pancasila membuktikan Indonesia ini tidak dibangun azaz tunggal agama atau kepercayaan tertentu. Tetapi Indonesia dibangun justru atas azaz perbedaan dan keberagaman yang menjadi satu kekutan. “Jadi,  Pancasila sudah selesai untuk diperdebatkan sejak 1 Juni 1945. Ini perlu ditanamkan pada generasi muda,” tandasnya.
      Pemuda Hindu,  Bayu Pratomo menilai perlunya silaturahmi yang secara lahir dan batin  dikembangkan dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat. Interaksi antarmanusia yang mulai berkurang di era teknologi media sosial dapat menyebabkan hubungan antarmanusia kurang sehat dan mudah tersulut emosi yang tidak logis. Ini harus menjadi kewaspadaan diri. (bam)
 

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan