Perlu Literasi Media Bagi Perempuan

Literasi Media: Seminar nasional 'Urgensi Literasi Media untuk Membangun Kesetaraan Gender' memperingati Hari Ibu dan ulang tahun Dharma Wanita Persatuan UNY, di kampus setempat, Rabu (20/12).

Literasi Media: Seminar nasional ‘Urgensi Literasi Media untuk Membangun Kesetaraan Gender’ memperingati Hari Ibu dan ulang tahun Dharma Wanita Persatuan UNY, di kampus setempat, Rabu (20/12).

JOGJA – Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) merupakan elemen penting bagi proses transformasi sosial, budaya, politik, dan ekonomi. Apalagi di era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) saat ini, Indonesia menjadi pusat ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Hanya saja, distribusi akses TIK masih belum merata dari aspek geografis maupun strata sosial. Deklarasi Beijing menegaskan, pemberdayaan perempuan dalam bidang TIK akan meningkatkan kontribusi perempuan dalam ekonomi keluarga. Namun, kesadaran perempuan untuk memanfaatkan teknologi guna menunjang tugas-tugasnya masih rendah.

“Di sinilah diperlukan literasi digital yang holistik, menyeluruh, terutama aspek dorongan diri sendiri dari kaum perempuan untuk mempelajari dan menguasai TIK bagi kebaikan dirinya dan keluarganya serta lingkungannya,” ujar Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ratna Susianawati MH, dalam seminar nasional menyongsong Hari Ibu, di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY, Rabu (20/12).

Hambatan perempuan dalam berinternet, di antaranya kurang percaya diri, tidak ada biaya, tidak tahu cara menggunakan smartphone, laptop, atau peralatan berteknologi tinggi serta kurangnya pelatihan tentang teknologi. “Untuk itu sangat diperlukan perspektif para pemangku kepentingan, yang memungkinkan perempuan terlibat aktif dalam merumuskan kebijakan yang relevan serta mampu membangun kapasitas perempuan dalam bidang TIK,” kata Ratna.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memiliki layanan publik Serempak (Seputar Perempuan dan Anak), berupa gerakan bersama guna meningkatkan akses perempuan pada teknologi informasi, memunculkan tokoh-tokoh perempuan yang telah berhasil memanfaatkan TIK, wadah kerjasama antara pemerintah dan para stakeholders pendukung lainnya untuk pemberdayaan perempuan melalui TIK, serta memberikan sarana dalam bentuk website.

Dalam seminar yang juga dilaksanakan dalam rangka ulang tahun Dharma Wanita Persatuan UNY bertema Urgensi Literasi Media untuk Membangun Kesetaraan Gender itu diikuti lebih dari 200 orang anggota Dharma Wanita UNY serta masyarakat, itu Komisioner PT Indoguardika Cipta Kreasi Jakarta, Pratama Persadha menjelaskan, penetrasi pengguna internet di Indonesia sebanyak 132,7 juta orang dari total seluruh penduduk Indonesia 256,2 juta orang. “Akses informasi internet juga makin besar dan orang lebih cenderung mengikuti rekomendasi temannya,” ungkapnya.

Rekomendasi teman, lanjut Pratama, berasal dari pengalaman pribadi maupun review di media sosial. “Inilah literasi digital yang merupakan literasi generasi milenial. Word of mouth merupakan kekuatan pesan yang dibawa dan disampaikan para wanita. Dengan teknologi, pendapat dan suara hak wanita Indonesia akan didengar lebih luas dan lebih sering,” tuturnya.

Dari word of mouth bergeser menjadi world of mouth. Outputnya, wanita Indonesia mempunyai pengaruh, serta suaranya didengar dan ditunggu. “Poin penting edukasinya, berhati-hatilah di dunia cyber terutama media sosial, menghindari hoax, dan cyber bullying, serta mendorong wanita Indonesia untuk menulis maupun memproduksi model konten lain demi meningkatkan konten positif sekaligus mendorong terciptanya kesetaraan,” tandas Pratama. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan