Perlu UU Sandang

Ikatsi: Workshop terkait Kongres IV Ikatsi (Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia), di Grand Quality Hotel, Jogjakarta, Jumat (8/3), dengan tuan rumah UII (Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta.

Ikatsi: Workshop terkait Kongres IV Ikatsi (Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia), di Grand Quality Hotel, Jogjakarta, Jumat (8/3), dengan tuan rumah UII (Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta.

JOGJA – Jika ada semangat kemandirian pangan, perlu pula dilontarkan perlunya kemandirian sandang. Ini mengacu pada kebutuhan dasar manusia, sandang, pangan, dan papan. Sudah waktunya Indonesia memiliki UU (undang-undang) Sandang.

“Selain untuk kemandirian, UU Sandang diperlukan pula untuk lebih memajukan industri tekstil dan produk tekstil tanah air,” ungkap OC Kongres Ikatsi (Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia) Ir Sukirman MM, di Grand Quality Hotel, Jogjakarta, Jumat (8/3), di sela workshop terkait kongres tersebut.

Sebagai lembaga profesi yang mewadahi para ahli tekstil di Indonesia, Ikatsi telah berdiri sejak 1958 melalui Kongres I. Lima tahun kemudian, digelar Kongres II pada 1963 dan Kongres III pada 1987. “Sejak itu belum ada kongres lagi, sehingga tahun ini merupakan kongres kali keempat,” ujar Sukirman.

Agenda utama kongres, imbuhnya, melakukan sidang pleno untuk memilih ketua Ikatsi yang baru. Sehari sebelumnya, telah digelar pra kongres. Komisi A membahas tentang AD/ART dan Komisi B tentang program kerja Ikatsi ke depan.

Hasil pembicaraan di Komisi B itulah, kemudian muncul gagasan mengenai aneka program kerja internal guna pengembangan Ikatsi ke depan. “Untuk eksternal, Ikatsi akan mendorong pemerintah menerbitkan UU Sandang,” tutur Sukirman kemudian.

Melalui undang-undang tersebut diharapkan industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) Indonesia tak lagi terpuruk. “Bisa lebih mandiri dan terlindungi terutama dari serbuan tekstil maupun produk tekstil impor yang saat ini membanjiri Indonesia,” kata Sukirman.

Melalui proteksi berdasarkan UU Sandang, lanjut Sukirman, diharapkan pula industri TPT tanah air bisa lebih bersaing dengan produk impor. “Selain membatasi impor, dorongan untuk memacu pengembangan teknologi tekstil juga sangat diperlukan,” tegasnya.

Di sisi lain, pendidikan di bidang pertekstilan juga perlu mendapat perhatian. “Selama ini, pendidikan di bidang itu belum tergarap maksimal. Akibatnya, ahli yang kita miliki di bidang pertekstilan pun masih minim jumlahnya,” papar Sukirman lebih jauh.

Tak kurang dari 150 orang peserta asal 10 perguruan tinggi mengikuti kongres, dengan tuan rumah UII (Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta itu. Hadir pula 13 orang selaku Peninjau dan 14 orang tamu VIP. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan