Pertajam Keahlian, HIMKI Ikut Didik Siswa Vokasi

Vokasi: Pembina HIMKI DIJ Rumekso Setiadi (dua kanan) dan Wakil Ketua HIMKI DIJ Gatot Ireng Mujiono (dua kiri) menjelaskan pembentukan Forum Vokasi DIJ sebagai upaya agar lulusan SMK siap kerja di industri mebel dan kerajinan.

Vokasi: Pembina HIMKI DIJ Rumekso Setiadi (dua kanan) dan Wakil Ketua HIMKI DIJ Gatot Ireng Mujiono (dua kiri) menjelaskan seputar pembentukan Forum Vokasi DIJ.

JOGJA – Kalangan industri mebel dan kerajinan di Jogjakarta mengeluhkan lulusan SMK yang tak siap kerja. Pelaku usaha harus melatih kembali agar lulusan SMK memenuhi kriteria yang diinginkan. Cukup merepotkan. Karena itu para pelaku usaha yang tergabung dalam HIMKI (Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) terpangggil untuk ikut turun tangan membenahi kualitas lulusan SMK.

“Kami bekerjasama dengan salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja dan didukung sepenuhnya oleh Kementerian Perindustrian siap untuk turut serta mendidik siswa SMK atau vokasi,” ungkap salah seorang pengurus DPP HIMKI sekaligus Pembina DPD HIMKI DIJ, Rumekso Setiadi, kepada wartawan, di Jogjakarta, Jumat (15/12).

Sebagai langkah awal, pada hari itu pula HIMKI menggelar diskusi terbatas Implementasi Program Vokasi untuk Pengatan Industri Mebel dan Kerajinan di DIJ. Diikuti para pengampu kebijakan terkait bidang perencanaan, pendidikan, pelatihan, ekonomi, industri, dan ketenagakerjaan. Tak ketinggalan perbankan yang memfasilitasi pembiayaan modal dan investai bagi para pelaku usaha.

Melalui diskusi tersebut ditemukan permasalahan di masing-masing pengampu kepentingan maupun antar pengampu kepentingan. Sekaligus membuat formulasi dan resolusi terhadap masalah yang berada di ranah vokasi maupun industri sebagai pengguna vokasi.

Akhirnya disepakati adanya pengkajian, penambahan, dan penyesuaian kurikulum vokasi dengan kegiatan pelaku industri. “Tak kalah penting pembentukan Forum Vokasi DIJ agar kurikulum program vokasi yang diterapkan di SMK berbanding lurus dengan serapan tenaga kerja pelaku industri mebel dan kerajinan di DIJ,” ujar Yoyok, panggilan sehari-hari Rumekso Setiadi.

Selanjutnya, HIMKI mengharapkan masing-masing pihak tidak berjalan sendiri-sendiri seperti selama ini. “Memprihatinkan karena kemudian kami jarang, bahkan tak pernah, menerima pasokan sumberdaya manusia yang terampil seperti yang diinginkan,” imbuh Yoyok.

Para lulusan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) selama ini masih harus beradaptasi lebih dahulu, dikondisikan, bahkan harus menjalani pelatihan agar kemudian memiliki kualifikasi seperti yang diinginkan industri. “Melalui forum vokasi itu diharapkan muncul ekosistem yang baik bagi industri maupun dunia pendidikan,” tandas Yoyok.

Melalui forum vokasi itu pula, tiga tahun mendatang SMK di DIJ sudah mampu menghasilkan lulusan berkualitas dan terampil sekaligus mampu bertanggungjawab manakala memegang SKKNI (Sertifikat Kompetensi dan Keahlian Nasional Indonesia).

Ada 14 SMK di DIJ yang berkaitan dengan industri mebel dan kerajinan, namun hanya lima SMK yang sudah bekerjasama dengan industri. “Melalui program pendidikan untuk mempertajam kualitas dan keterampilan lulusan SMK, itu nantinya satu perusahaan akan mengampu lima SMK,” jelas Wakil Ketua DPD HIMKI DIJ Bidang SDM dan Produksi, Gatot Ireng Mujiono. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan