Pertamina dan Samator Juarai Proliga 2018

Juara Proliga: Tim puteri Jakarta Pertamina Energi berhasil menjadi yang terbaik pada Proliga 2018, setelah dalam babak final di GOR Amongrogo Jogjakarta, Minggu (15/4), berhasil menaklukkan Bandung Bank BJB Pakuan.

Juara Proliga: Tim puteri Jakarta Pertamina Energi berhasil menjadi yang terbaik pada Proliga 2018, setelah dalam babak final di GOR Amongrogo Jogjakarta, Minggu (15/4), berhasil menaklukkan Bandung Bank BJB Pakuan.

JOGJA – Dua tim terbaik, masing-masing tim puteri Jakarta Pertamina Energi dan tim putera Surabaya Bhayangkara Samator, mampu menjuarai liga bola voli paling bergengsi di tanah air, Proliga 2018, setelah dalam partai puncak di GOR Amongrogo Jogjakarta, Minggu (15/4), mampu mengalahkan lawan-lawannya. Dua tim tersebut juga menyabet penghargaan pemain puteri dan pemain putera terbaik, serta pelatih terbaik.

Pada pertandingan pertama, tim puteri Jakarta Pertamina Energi mampu menaklukkan Bandung Bank BJB Pakuan dengan skor 3-0 (25-20, 25-18, 25-17). Sebagai juara, tim puteri Pertamina berhak atas hadiah uang Rp 200 juta. Sedangkan Bank BJB sebagai juara kedua mengantongi Rp 100 juta. Salah seorang pemain Pertamina, Nandita Ayu Salsabila dinobatkan sebagai pemain terbaik. Begitu pula pelatih mereka, Muhammad Anshori sebagai pelatih terbaik. Masing-masing memperoleh Rp 10 juta.

Pertandingan final antara Pertamina melawan Bank BJB seakan menjadi antikilmaks bagi tim puteri asal Bandung itu. Mereka seakan tak berkutik membendung serangan-serangan yang dilancarkan Novia Andriyanti dan kawan-kawan. Pertarungan yang diharapkan berlangsung ketat pun tak terjadi. Sebaliknya, seakan Pertamina menang dengan cukup mudah.

“Menang mudah, tidak juga. Kami tetap harus berjuang keras. Barangkali kami lebih kompak sehingga bisa mengalahkan lawan. Dukungan penonton juga sangat menentukan. Yang jelas, kami bersyukur karena pencapaian seperti inilah yang sudah kami tunggu-tunggu sejak lama,” ungkap kapten tim Pertamina, Novia Andriyanti.

Manager tim puteri Pertamina, Widi Triyoso juga menyatakan rasa syukurnya. “Setelah dua tahun hanya menjadi runner up, akhirnya tahun ini kami menjadi juara juga. Ini semua berkat kerjasama semua lini. Mulai dari pelatih yang mampu meracik pemain sehingga bisa menampilkan permainan terbaik, stamina pemain yang terjaga dan tidak ada yang cidera, serta kekompakan tim berkat dukungan seluruh manajemen Pertamina,” katanya.

Pertandingan di bagian putera antara Surabaya Bhayangkara Samator melawan Palembang Bank Sumsel Babel justru lebih seru dan sempat menegangkan, meski akhirnya Samator mampu memenangi dengan skor 3-1 (25-22, 25-16, 23-25, 30-28). Sebagai juara pertama, Samator berhak atas hadiah uang Rp 200 juta dan Bank Sumsel Rp 100 juta. Salah seorang pemain Samator, Rivan Nurmulki juga dinobatkan menjadi pemain terbaik putera dan berhak atas uang Rp 10 juta. Begitu pula pelatih Samator, Ibarsjah Djanu T menjadi pelatih terbaik, juga memperoleh Rp 10 juta.

“Ada tiga faktor penentu kemenangan kami, yaitu fisik pemain, servis, dan blok, yang selalu kami asah dan evaluasi mulai dari pertandingan-pertandingan reguler, final four, hingga grand final ini. Terbukti, dari tiga faktor itulah yang mampu menyumbangkan poin demi poin yang kami peroleh. Hanya saja pada set ketiga anak-anak telalu tergesa-gesa sehingga harus kalah. Sedangkan set keempat faktor keberuntungan ada di kami sehingga menang,” tutur Ibarsjah.

Pelatih Bank Sumsel, Samsul Jais mengaku, pemain asuhannya tidak menunjukkan performance seperti biasa. “Terutama pada awal set sehingga pada set ketiga cukup berat meski akhirnya kami bisa memenanginya. Pada set keempat, lawan lebih beruntung. Secara keseluruhan, saya puas dengan permainan anak-anak. Tapi Samator memang bermain bagus,” ujarnya kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan