Pihak Tak Mengerti Sejarah Jadi Tantangan Bersama

Empat Pilar: Eko Suwanto (berdiri) berbicara di hadapan 200 orang peserta Sosialisasi Empat Pilar, di Jogjakarta, Jumat (7/12) malam.

Empat Pilar: Eko Suwanto (berdiri) berbicara di hadapan 200 orang peserta Sosialisasi Empat Pilar, di Jogjakarta, Jumat (7/12) malam.

JOGJA – Perjuangan untuk menjaga keragaman dan ideologi Pancasila harus selalu menjadi gerak bersama seluruh rakyat Indonesia. Tantangan bersama saat ini sejatinya adalah nafsu pihak-pihak yang tidak mengerti sejarah bangsa dan mempersoalkan eksistensi NKRI yang berdasar Pancasila.

Hal itu mengemuka saat Sosialisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, di Jogjakarta, Jumat (7/12) malam, dengan narasumber anggota DPR RI Idham Samawi, dan Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto, dipandu moderator dosen UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ahmad Ma’ruf.

“Kita banyak mewarisi perbedaan. Adanya keberagaman sebagai bangsa Indonesia, penting untuk selalu mendapatkan yang terbaik. Saya berpesan agar kita tetap menjaga dan berpedoman dengan ideologi Pancasila,” kata Idham.

Upaya bangsa Indonesia untuk merdeka dan terbebas dari penjajahan asing, kini wajib diisi dengan membangun kehidupan rakyat agar lebih sejahtera. Meski berbeda asal, suku bangsa, dan agama, pilihan untuk menjadi satu bangsa yang besar sudah final. Inilah yang wajib dijaga terus oleh segenap elemen bangsa.

“Melalui sosialisasi ideologi Pancasila secara terus menerus, kita bisa bersatu. Ada ikatan kebangsaan dengan Pancasila,” kata Idham di hadapan 200 orang peserta sosialisasi dari unsur pendamping difabel, ormas keagamaan, dan anggota Linmas kota Jogjakarta.

Eko menegaskan, tugas merawat ke-Indonesia-an menjadi kewajiban bersama. Apalagi di DIY dengan Jogja Istimewa, wilayah yang berpenduduk 3,6 juta, dengan ratusan ribu pendatang yang belajar dan bekerja hidup dalam keberagaman di Jogjakarta.

“Kita di Jogjakarta memiliki budaya. Kearifan untuk bertanggungjawab menjunjung Bhinneka Tunggal Ika dengan keramahan warga Jogja,” kata Eko, anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DIY itu.

Ada banyak keteladanan, kebiasaan, dan budaya yang perlu terus dipelihara. Ekspresi keberagaman bisa dengan mudah ditemui di Jogjakarta. Kesederhanaan hingga keberagaman kuliner. “Jogja pun lekat dengan beragam identitas. Tak hanya kota Pendidikan, kota Budaya, Jogja juga dikenal pula sebagai kota Nostalgia dan ngangeni,” tutur Eko kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan