Poco-poco Pecahkan Rekor Dunia 2018

Poco-poco: Dipandu instruktur yang juga pegawai lapas, segenap warga binaan perempuan mengikuti senam Poco-poco, di lapas Wirogunan, Jogjakarta, beberapa waktu lalu.

Poco-poco: Dipandu instruktur yang juga pegawai lapas, segenap warga binaan perempuan mengikuti senam Poco-poco, di lapas Wirogunan, Jogjakarta, beberapa waktu lalu.

JOGJA – Meriahkan gelaran pemecahan rekor dunia, the Guinness World Record 2018, secara serentak di seluruh lapas dan rutan di Indonesia menggelar senam Poco-poco. Di Lapas Wirogunan Jogjakarta, dipamerkan pula aneka produksi kerajinan hasil karya warga binaan perempuan.

Acara senam Poco-poco itu sendiri berlangsung serentak di 338 lapas dan 219 rutan se Indonesia, sekaligus memperingati HUT RI 17 Agustus. “Dipandu instruktur senam yang juga pegawai lapas Wirogunan Jogjakarta, segenap warga binaan perempuan mengikuti acara tersebut,” ungkap Kepala Lapas Perempuan Kelas II B Jogjakarta, Retno Yuni Hardiningsih, di LP Wirogunan Jogjakarta, awal Agustus ini.

Mengenakan seragam lengan panjang dan bertopi merah, segenap warga binaan perempuan itu terlihat bergembira mengikuti acara tersebut. Mereka pun diberikan kesempatan bercengkerama satu sama lain, sarapan bersama, kemudian diajak foto bareng dengan para petugas lapas, usai acara.

Berkaitan dengan upaya pembinaan, Retno menunjukkan hasil yang cukup membanggakan. Pembinaan yang dilakukan selama ini terhadap segenap warga binaan Lapas Perempuan Kelas II B Jogjakarta tidak sia-sia. Sejumlah produk kerajinan hasil karya warga binaan pun berhasil menembus Thailand.

“Pembinaan kami lakukan agar mereka bisa mandiri. Mulai dari membatik, memasak hingga membuat rajutan sandal dari batik. Karya mereka sudah sampai ke Thailand. Dari pusat, kita diminta oleh Dirjen Direktorat Pembinaan Lapas untuk pameran,” ungkap Retno.

Di sela acara senam bersama, itu Retno menyampaikan, sejumlah produk kerajinan yang dihasilkan warga binaan cukup beragam. Di antaranya, pernak-pernik aksesoris. “Sebagian dari produk itu terbuat dari barang-barang bekas seperti kaleng roti yang dihias sedemikian rupa sehingga tampilannya menarik,” jelasnya.

Retno pun mengemukakan, keberadaan Lapas Perempuan di Jogjakarta sangat diperlukan. “Dari seluruh wilayah lapas di DIY, disatukan di Wirogunan ini,” katanya, seraya menjelaskan, Lapas Perempuan didirikan belum lama sekitar Desember 2016. Itu sebabnya hingga saat ini belum memiliki bangunan atau gedung sendiri.

Untuk sementara waktu masih berada di dalam lingkungan LP Wirogunan, Jalan Tamansiswa, Jogjakarta, namun bloknya terpisah secara tersendiri. Adapun kapasitasnya 125 orang dan menurut catatan terakhir, penghuninya 122 orang, empat di antaranya warga negara asing. Dengan rincian, narkoba 33 orang, kriminal 77 orang, trafficking 2 orang, TPPU 4 orang, korupsi 6 orang. “Hari ini ada satu orang yang bebas,” tutur Retno kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan