Potensi Kelautan Hanya Termanfaatkan 22 Persen

Menko Kemaritiman Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan

Menko Kemaritiman Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan

SLEMAN – Total nilai ekonomi kelautan Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 1,2 triliun dolar AS per tahun dan mampu menyediakan lapangan kerja sedikitnya untuk 40 juta orang. Namun sampai saat ini baru sekitar 22 persen dari total potensi tersebut yang telah dimanfaatkan. Indonesia idealnya mampu memanfaatkan keunggulan tersebut untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi maritim di masa depan.

“Hanya saja keunggulan geopolitik dan geostrategi itu belum secara optimal dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan nasional di bidang ekonomi,” ujar Ludiro Madu dari Pusat Studi Pertahanan & Keamanan Jurusan Hubungan Internasional UPNVY (Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta), di kampus setempat, Jumat (9/2).

Guna mengetahui lebih mendalam mengenai potensi kemaritiman Indonesia, masih dalam rangkaian acara dies natalis, UPNVY pun mengundang Menko Kemaritiman Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan untuk menyampaikan kuliah umum bertajuk Pengembangan Industri dan Jasa Maritim Indonesia untuk Mewujudkan Visi Poros Maritim Dunia.

Tak secara khusus menyampaikan persoalan seputar kemaritiman, Luhut lebih luas lagi banyak mengemukakan tentang potensi besar serta posisi Indonesia dalam perekonomian dunia. “Kita harus bangga memiliki tanah air yang besar ini. Dalam bidang ekonomi, Indonesia saat ini berada pada urutan kelima di dunia,” ujarnya di hadapan mahasiswa yang mengikuti kuliah umum itu.

Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06 persen, lanjut Luhut, banyak pihak menyatakan Indonesia menjadi tempat investasi yang sangat menarik. “Bahkan di tingkat Asia Tenggara, Indonesia berada pada urutan kedua setelah Singapura,” tandasnya.

Rektor UPNVY Prof Dr Sari Bahagiarti menyatakan, kehadiran Menko Kemaritiman merupakan momentum penting untuk memahami orientasi dan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya maritim secara akuntabel. “Pun, sangat berharga untuk membuka cakrawala dan barangkali mengubah perspektif kita dalam melihat Indonesia sebagai salah satu kekuatan maritim terpenting di dunia.”

Kuliah umum juga merupakan kelanjutan kerjasama yang selama ini telah terjalin antara Pusat Studi Pertahanan & Keamanan UPNVY dengan Deputi Bidang koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa, Kantor Kemenko Kemaritiman.

Kerjasama, imbuh Sari, telah menghasilkan empat judul buku. Masing-masing Kembali Ke Laut, Industri dan Jasa Maritim dalam Poros Maritim Dunia (2016); Melancong Ke Laut: Tata Kelola Pariwisata Maritim Indonesia (2017); Membangun dari Laut, Industri dan Jasa Maritim Indonesia (2017); serta Mengamankan Laut: Tata Ruang dan Keamanan Maritim (2017). (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan