Produk Herbal Jadi Unggulan Binatama

Pameran: Stan SMK Kesehatan Binatama Jogjakarta pada pameran Lomba Kompetisi Siswa SMK DIY Tahun 2018, di Hotel Sahid Jogjakarta.

Pameran: Stan SMK Kesehatan Binatama Jogjakarta pada pameran Lomba Kompetisi Siswa SMK DIY Tahun 2018, di Hotel Sahid Jogjakarta.

JOGJA – Aneka produk keperawatan dan kesehatan berbasis herbal karya siswa siswi SMK Kesehatan Binatama Jogjakarta mampu mencuri perhatian pengunjung pameran Lomba Kompetisi Siswa SMK DIY Tahun 2018, di Hotel Sahid Jogjakarta, pekan lalu. Tak keliru Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY selaku penyelenggara menunjuk Binatama sebagai salah satu dari 18 SMK lainnya untuk mempresentasikan inovasi siswa siswinya.

“Sebenarnya ada puluhan produk inovatif yang telah dihasilkan siswa. Ini hanya sebagian saja yang kami presentasikan di sini,” ujar Wakil Kepala Sekolah SMK Kesehatan Binatama bidang Kurikulum, Galang Eko Prasetyo SPd, sambil menunjukkan beberapa produk unggulan siswa siswinya yang dipresentasikan di stan pameran tersebut.

Tahun ini SMK Kesehatan Binatama memamerkan aneka hasil produk unggulan. Program Studi Farmasi memamerkan produk inovatif berupa Masker Bubuk dalam empat varian), Gel Sanitizer, Cokelat Saga, Minyak Gosok, Minyak Pijat Bayi, Rose Face Mist dan Hand Rub.

Sedangkan Program Studi Keperawatan memamerkan produk inovatifnya berupa masker kulit jeruk, lulur mandi green tea, masker green tea, stik salak, stik sawi keju, dan beberapa lainnya. Tak ketinggalan, pelayanan gratis pengukuran tekanan darah, cek gula darah, dan cek asam urat.

“Semua produk hasil inovasi siswa siswi itu berbasis herbal sehingga lebih aman bagi kesehatan. Meski belum dijual bebas secara komersial, namun semua produk telah melalui ujicoba laboratorium maupun pengawasan secara ketat sehingga aman untuk dikonsumsi atau dipergunakan. Bahkan kami juga telah memiliki pusat pengolahan limbah yang aman bagi lingkungan,” tutur Fifit Afikah SKepNs, selaku guru pembimbing.

Melalui matapelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan, seluruh siswa sejak Klas X memang telah didorong untuk menghasilkan produk inovatif. “Untuk siswa Klas X memang baru diberikan teorinya. Diperdalam di Klas XI yang mulai menganalisa serta mempelajarinya di laboratorium. Akhirnya, semua rancangan produk inovatif itu diaplikasikan oleh siswa siswi Klas XII untuk dijadikan sebuah produk,” papar Fifit.

Selain lebih sehat karena minim penggunaan bahan kimia, produk herbal itu sekaligus memperbesar pemanfaatan bahan lokal. “Kami memang mendorong penggunaan bahan-bahan lokal. Bahkan sekolah kami juga memiliki apotek hidup dengan berbagai jenis tanaman obat yang sangat bermanfaat,” ujar Fifit kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan