Promosi Doktor, Dian Arymami Raih Cumlaude

IMG_20170806_103439
JOGJA (jurnaljogja.com) – Staf Pengajar Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM Jogjakarta, Dian Arymami meraih predikat cumlaude dalam promosi doktor Program Studi Kajian Budaya dan Media  di Sekolah Pascasarjana UGM, Kamis (27/7).
    Dalam disertasinya berjudul  “Redefinisi Keintiman Diri dalam Masyarakat Skizofrenik” disampaikan tentang temuan penelitiannya yang menunjukkan  hubungan extradyadic  di masyarakat urban Indonesia telah menjadi sarana untuk melepaskan diri dari represi sosial yang bersifat berbeda untuk lelaki dan perempuan.
      Menurut Monik, sapaan promovenda, saat ini fenomena penyebaran hubungan extradyadic yang luas di wilayah urban Indonesia mengemuka. “Sebagai masyarakat yang memegang dan menerapkan gagasan tentang hubungan romantis sebagai hubungan yang bersifat heteroseksual dan monogami, relasi semacam ini dapat dilihat sebagai tindakan pemberontakan atas struktur sosial masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
     Pada tingkat yang lebih dalam, lanjut Monik, fenomena tersebut mengindikasikan adanya pergeseran nilai relasi di masyarakat. Dominasi ide atas relasi telah menutup persepsi, mendorong penilaian dan hukuman moral melalui tindakan diskriminasi sosial dan budaya serta membungkam orang-orang yang menjalani hubungan extradydic.
    Menurutnya, studi tentang hubungan extradyadic sebagai bagian dari pergeseran praktik romantis selama ini telah memberikan perhatian yang sangat kecil pada interkoneksi diri dan dinamika sosial sebagai bidang studi tunggal.  “Subyektivitas orang-orang yang melakukan hubungan dalam kehidupan sehari- hari mereka sering diremehkan dalam usaha memahami persoalan ini. Dengan kecenderungan determinasi sosial  atau analisis gangguan mental dalam melihat perilaku relasi keintiman,” katanya.
    Penelitian promovenda bermaksud untuk memahami praktik hubungan extradydic  yang tidak lepas dari arsiran diri dan dinamika sosial, melalui perempuan Indonesia yang melakukan relasi extradyadic di wilayah urban. Studi etnografi ini dilakukan di Jakarta, Pontianak, Bali, Surabaya dan Jogjakarta, antara 2014-2016.  “Semua partisan merupakan perempuan yang  sukarela menjawab undangan  partisipasi peneltian yang telah diedarkan secara publik,” jelasnya.
     Temuan penelitiannya menunjukkan bahwa hubungan  extradyadic di masyarakat urban Indonesia telah menjadi sarana untuk melepaskan diri dari represi sosial yang bersifat berbeda untuk lelaki dan perempuan.  Praktik hubungan semacam ini mendorong difinisi keintiman baru yang tidak terikat. Mengubah nilai dan bentuk hubungan romantis yang bersifat non-historis dan khusus. “Ada perbedaan arah perilaku relasi antargender, upaya meraih posisi sosial bagi wanita, dan menegakkan bias kuasa bagi pria,” katanya.
     Menurutnya, pandangan yang berubah tentang realitas telah menjadi hasil yang  tak terelakkan dalam konteks masyarakat urban Indonesia, yang menciptakan subjek schizo melalui relasi extradyadic. “Konteks relasi kuasa gender memberikan pergeseran yang spesifik dalam proses kreasi subjek schizo,” jelasnya. (bam)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan