PsiMed Kembangkan PUKA Untuk Anak Autis

 IMG_20170725_115829
JOGJA – Setiap orang perlu memiliki keterampilan berinteraksi secara sosial dan binadiri, tak terkecuali anak autis. Tapi, siswa autis memiliki kecenderungan sulit berinteraksi sosial. Dan proses pembelajarannya perlu pendampingan lama dan harus dilakukan penuh kesabaran untuk mencapai target kemandirian siswa.

Guru dan orangtua memiliki peran penting dalam proses pembelajaran siswa autis. Dari observasi yang telah dilakukan di lokasi beberapa SLB Autis, antara lain SLB Fajar Nugraha dan SLB Dian Amanah, media pembelajaran keterampilan interaksi sosial dan binadiri seperti buku masih terbatas di sekolah.

Untuk mendukung proses belajar yang menyenangkan, dibutuhkan permainan yang mudah dimengerti sehingga pengalaman dalam berinteraksi dan belajar terasa lebih menyenangkan. Media permainan digital mendukung siswa untuk mengatur kecepatan belajar sesuai kemampuannya dan merangsang untuk mengetahui lebih jauh lagi.

“Karena itu kami mengembangkan PUKA, Permainan Untuk Komunikasi Autis, permainan berdasarkan model pembelajaran PECS, picture exchange communication system, menggunakan gambar sebagai media komunikasi anak autis,” ungkap Kepala PSIMed (Pusat Studi Informatika Medis) FTI UII, Izzati Muhimmah ST MSc PhD, di kampus setempat, Rabu (19/7).

Permainan itu terdiri dari enam fase. Setiap fase anak dikenalkan tahapan untuk berkomunikasi. “Mulai dari mengenal benda-benda yang ada di lingkungannya, menyusun kata dan frase, sampai menyusun kalimat untuk berkomunikasi,” tutur Izzati kemudian.

Permainan dapat diunduh melalui http://psimed.fit.uii.ac.id/project/. “Setelah diujikan pada kelompok siswa autis non verbal berusia sebelas tahun ke atas, respon siswa terhadap permainan itu positif,” ujar staf PSIMed, Rahadian Kurniawan SKom MKom.

Aplikasi berbasis Android tersebut merupakan ikhtiar untuk membantu guru dan orangtua dalam memberikan variasi model pembelajaran keterampilan interaksi sosial yang lebih aktif di kelas, dengan memanfaatkan permainan digital.

Kegiatan itu juga berupaya memberikan edukasi mengenai konten dalam permainan digital yang boleh maupun tidak bagi orangtua siswa. Sekaligus membekali mereka kakas pembelajaran berupa permainan digital yang dapat digunakan untuk melatih keterampilan anak autis di rumah.

“Melalui permainan digital tersebut diharapkan dapat mensinergikan proses pembelajaran keterampilan interaksi sosial dan binadiri yang aktif di rumah maupun di sekolah,” tandas Izzati lebih jauh. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan