PT Dewi Sri Sejati Ancam Perkarakan Pakar Geologi UGM

IMG_20171008_205730
Kawasan Bukit Pandawa yang akan dibangun Perumahan Godean Jogja Hills tiap Minggu pagi dimanfaatkan warga dusun setempat untuk senam. 

JOGJA (jurnaljogja.com) – PT Dewi Sri Sejati Jogjakarta bakal memperkarakan pakar geologi UGM lantaran menuding lokasi yang akan dijadikan Perumahan Godean Jogja Hills merupakan kawasan rawan longsor.

   “Wilopo bicara lahan di sini rawan longsor dan akan terjadi pembunuhan massal. Itu meresahkan masyarakat. Maka, akan saya laporkan ke polisi,” ancam Yoyok Sismoyo SH & Partners, yang diberi kuasa PT Dewi Sri Sejati di kawasan proyek Bukit Pandawa Dusun Jering VI  Keluarahan Sidorejo Kecamatan Godean, Sleman, Minggu (8/10).

     Advokat  Yoyok menyatakan siap mengambil langkah hukum pencemaran nama baik kliennya sebagai pengembang. “Bisa tuntutan perdata, tapi akan saya pastikan dulu apakah dia itu bicara atas nama pribadi atau atas nama institusi UGM. Ini  nggak main-main karena pembangunan ini untuk rakyat kecil, kok dihalang-halangi,” katanya.

    Direktur Utama PT Dewi Sri Sejati, Alim Sugiantoro mengaku sempat dikomplain calon pembeli perumahan. Karena itu, pihaknya menyayangkan pernyataan  pakar geologi UGM itu yang dianggap merugikan pengembang dan meresahkan calon pembeli perumahan.

   Menurut Alim, pakar geologi itu meneliti dan mengekspos ke media tanpa seizin pihaknya. “Kalau mau masuk kawasan proyek kami untuk meneliti harusnya bicara baik-baik pada yang berhak. Ini tidak izin, kapan datang dan pergi juga kita tidak tau? Bahkan membuat resah,” ucapnya menyayangkan.

   Kawasan Bukit Pandawa, rencana akan dibangun 500 unit perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dengan cicilan di bawah Rp 1 juta/bulan. “Masyarakat penghasilan rendah lebih memilih mencicil rumah ddaripada sewa rumah atau kontrak, karena sebulan hanya mengangsur Rp750 ribu,” tuturnya.

    Alim juga menyayangkan lamanya keluar izin pembangunan Perumahan Godean Jogja Hills dari Pemkab Sleman. Padahal rencana  pembangunan perumahan  di kawasan Dusun Jering VI itu  nantinya dikhususkan bagi  rakyat kecil berpenghasilan rendah.

   “Kami sudah sejak 25 Agustus 2016 ke Bupati Sleman, tapi sampai sekarang belum keluar izin pembangunan rumah MBR ini,”  katanya.

     Ia jelaskan,  lahan perbukitan seluas 5 hektar lebih itu pada tahap awal bakal dibangun 500 unit rumah sederhana. “Kami dukung program pemerintah untuk membantu rakyat kecil agar dapat punya rumah,” tandas  pengembang perumahan ini.

    Ahli Geologi dari UPN “Veteran” Yogyakarta  Dr Ir Jatmiko Setiawan MT yang mengkaji bebatuan di lahan pembangunan proyek perumahan itu  menilai  cukup aman kawasan bukit tersebut untuk dibangun perumahan. “Sudah kami kaji. Rekahan bebatuan itu menuju ke dalam. Batuan di sini merupakan batuan beku, jadi cukup aman,” katanya.

     Menurutnya, batuan di kawasan itu termasuk langka dan indah sehingga bisa dikembangkan menjadi  kawasan  objek wisata ke depannya.

   Salah satu calon pembeli perumahan di lokasi ini, Kismantoro berharap agar perumahan itu segera dibangun. Menurutnya, dengan pembangunan perumahan ini  bisa mendongkrak geliat perekonomian masyarakat setempat. (bam)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan