PTMA Perlu Coret Prodi Tak Prospektif

Kemahasiswaan: Mendikbud Muhadjir Effendy (tengah) membagikan pengalamannya saat menjadi pembantu rektor bidang kemahasiswaan maupun rektor UMM, di hadapan pimpinan PTMA peserta rakornas kerjasama UAD dengan Majelis Dikti PP Muhammadiyah, di Jogjakarta, Jumat (9/11).

Kemahasiswaan: Mendikbud Muhadjir Effendy (tengah) membagikan pengalamannya saat menjadi pembantu rektor bidang kemahasiswaan maupun rektor UMM, di hadapan pimpinan PTMA peserta rakornas kerjasama UAD dengan Majelis Dikti PP Muhammadiyah, di Jogjakarta, Jumat (9/11).

JOGJA – Mengantisipasi perubahan dunia kerja yang semakin cepat, PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah) harus berani mencoret prodi (program studi) yang tak lagi prospektif. Ini terutama untuk kepentingan lulusan. Jangan sampai mereka tak bisa terserap di pasar kerja nantinya.

“Jangan mengira prodi yang saat ini banyak peminatnya, kelak akan terus dibutuhkan. Jangan ragu-ragu mencoret prodi yang tak lagi prospektif,” ujar Mendikbud (Menteri pendidikan dan Kebudayaan) Muhadjir Effendy, pada hari kedua Rakornas Bidang Kemahasiswaan Pimpinan PTMA, di Jogjakarta, Jumat (9/11).

Pada rakornas kerjasama UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta dengan Majelis Dikti PP Muhammadiyah, yang berakhir Sabtu (10/11), itu Muhadjir juga menyarankan, pencoretan prodi tersebut perlu dilakukan secepatnya. “PTMA harus berani membuat terobosan,” tandasnya.

Selain harus berani mengkonversi prodi yang tak lagi prospektif, Muhadjir yang memiliki pengalaman belasan tahun menjadi rektor UMM itu juga mengemukakan, peluang PTMA untuk menjadi lebih besar masih sangat terbuka. “Karena itu, harus sigap. Ambil kesempatan selagi ada,” sarannya kemudian.

Ia pun mengingatkan, PTMA harus menjadi pusat keunggulan yang bisa memberi kelimpahan bagi sekolah di sekitarnya. “Tak ada gunanya PTMA menjadi besar dan bagus jika sekolah SD, SMP, SMA Muhammadiyah di sekitarnya tidak ikut menjadi bagus,” tutur Muhadjir.

Kepada Majelis Dikti PP Muhammadiyah, Muhadjir menyarankan, jika akan mendirikan PTMA jangan menumpuk di satu tempat. “Justru sekarang ini sebaiknya mengembangkan di daerah-daerah pinggiran. Itu harus ada di dalam pemikiran kita,” ujarnya seraya mencontohkan Wakatobi sebagai salah satu daerah yang layak untuk dipertimbangkan guna pengembangan PTMA.

Menyangkut kemahasiswaan, Muhadjir menegaskan, PTMA harus diamankan dari segala bentuk radikalisme dan intoleransi. “PTMA jangan sampai terjerembab pada isu-isu yang sebenarnya tidak perlu itu. Mengurusnya juga melelahkan. Banyak hal lain yang lebih strategis yang harus diurus. Jangan main-main dengan isu-isu itu,” katanya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan