Radikalisme Ancaman Laten Di Indonesia

Halaqah: Menag Lukman Hakim Saifuddin (dua kiri) saat berbicara pada Halaqah Santri Nusantara bertajuk 'Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Islam untuk Generasi Milenial', di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta, Rabu (28/3).

Halaqah: Menag Lukman Hakim Saifuddin (dua kiri) saat berbicara pada Halaqah Santri Nusantara bertajuk ‘Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Islam untuk Generasi Milenial’, di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta, Rabu (28/3).

JOGJA – Kementerian Agama (Kemenag) bertekad untuk terus memerangi ancaman radikalisme, yang masih dianggap sebagai ancaman laten di Indonesia. Tuhan mentakdirkan Indonesia menjadi negara religius dan majemuk. Keragaman merupakan anugerah Tuhan sehingga harus saling melengkapi. Bukan saling menafikkan maupun saling merendahkan.

“Generasi muslim saat ini memiliki kewajiban merawat keislaman dan keindonesiaan secara bersama-sama,” ungkap Menag (Menteri Agama) Lukman Hakim Saifuddin, di hadapan peserta Halaqah Santri Nusantara bertajuk Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Islam untuk Generasi Milenial, di UIN Suka (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga) Jogjakarta, Rabu (28/3).

Kepada ratusan santri dari berbagai pondok pesantren yang mengikuti acara tersebut, Menag mengajak, mengedepankan rasa syukur sebagai bangsa Indonesia yang tradisionalis namun toleran dan memiliki relasi kuat dengan agama. “Dunia pendidikan termasuk pesantren merupakan salah satu pintu masuk radkalisme. Untuk itu pemerintah berupaya mengajak dunia pesantren menjaga keislaman nusantara yang memiliki spirit rahmatan lilalamin atau kedamaian universal,” tandas Lukman Hakim.

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin mengharap, santri sekarang tak boleh menjadi objek kemajuann zaman. “Saya berharap santri peduli dengan perkembangan dan tantangan terkini,” katanya.

Pada kesempatan itu Menag juga menyerahkan beasiswa PBSB (Program Bantuan Santri Berprestasi) kepada 290 santri dari berbagai pondok pesantren se Indonesia untuk melanjutkan ke jenjang S1 di beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. PBSB dimaksudkan pula sebagai bagian dari program umum Kemenag meningkatkan kualitas para santri dan menjauhkan dari ajaran radikal yang belakangan terus mengancam.

“Kami akan terus berupaya menjadikan Indonesia sebagai barometer keislaman dunia,” kata Lukman Hakim seraya menyatakan, kampus-kampus yang dipilih dalam program ini dinilai berkontribusi mewujudkan pendidikan Islam yang ramah di segala macam disiplin ilmu.

Sebanyak 14 perguruan tinggi bekerjasama dengan Kemenag dalam program beasiswa tersebut, di antaranya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Suka Jogjakarta, ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya, dan UGM (Universitas Gadjah Mada) Jogjakarta. Selain memperoleh biaya perkuliahan, para santri yang lolos seleksi PBSB nantinya akan mendapat insentif bulanan serta dana pembinaan.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag, Ahmad Zayadi mengatakan, PBSB merupakan bentuk afirmasi kepada santri untuk mendapatkan percepatan mobilitas sosial. “Ini instrumen agar santri lebih siap menyongsong masa depan,” tegasnya.

Sejak dibuka pada 2005 hingga 2017, santri yang tercatat mendapatkan program beasiswa mencapai 4.276 orang. Para penerima diwajibkan melakukan pengabdian mengajar di pesantren dan lembaga agama di dalam dan luar negeri. Sebanyak 160 di antara mereka kini sedang berada di luar negeri menyemai keislaman yang damai.

Rektor UIN Suka Jogjakarta, Prof KH Yudian Wahyudi MA PhD, yang juga Ketua Asosiasi Universitas Islam se Asia mengatakan, program beasiswa tersebut terbukti berhasil menyemai santri di berbagai perguruan tinggi ternama di dalam dan luar negeri. “Progam ini siginifikan memperkuat Islam moderat di dunia. Islam Nusantara saat ini berperan penting dalam kampanye Islam inklusif di dunia,” ujarnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan