Ratusan Pakar Gali Psikologi Rasa Lokal

Psikologi: Sejumlah pembicara  International Conference on Community Psychology, Humanization and Religio-Culture: Critical and Decolonial Voices, bersama Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum (tengah berbatik), usai pembukaan seminar tersebut, di Hotel Mercure Jogjakarta, Rabu (6/2).

Psikologi: Sejumlah pembicara International Conference on Community Psychology, Humanization and Religio-Culture: Critical and Decolonial Voices, bersama Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum (tengah berbatik), usai pembukaan seminar tersebut, di Hotel Mercure Jogjakarta, Rabu (6/2).

JOGJA – Banyak teori maupun pemikiran psikologi selama ini yang didominasi oleh budaya dan pemikiran Barat. Lebih dari seratus pakar asal Indonesia, Philippina, Afrika Selatan, Selandia Baru, dan lain-lain pun berkumpul di Jogjakarta membahas sekaligus menggali kultur maupun nilai-nilai lokal yang kemungkinan bisa diterapkan ke dalam teori psikologi.

“Negara-negara Selatan dengan berbagai pengalaman sejarah selama ini memiliki perspektif berbeda dengan negara-negara Barat. Karena itu kita perlu menggali budaya lokal, kearifan lokal, yang barangkali akan lebih pas diterapkan sebagai dasar ilmu psikologi di negara-negara Selatan ini,” ungkap Dekan Fakultas Psikologi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Eli Nur Hayati MPH Psi PhD, di Jogjakarta, Rabu (6/2).

Sebagai rangkaian terakhir acara milad ke-58 UAD, Fakultas Psikologi UAD selama dua hari hingga Kamis (7/2) menggelar International Conference on Community Psychology, Humanization and Religio-Culture: Critical and Decolonial Voices, dengan mengundang sejumlah pakar pembicara dari beberapa negara, serta puluhan makalah untuk didiskusikan.

“Sebagai negara yang pernah dijajah, tentu memiliki pengalaman dan perspektif yang berbeda dengan negara-negara Barat. Karena itu dengan menggali kearifan lokal, barangkali akan membuat perspektif maupun pemikiran piskologi yang berbeda pula dibandingkan teori psikologi Barat selama ini,” tandas Elli.

Hal serupa juga disampaikan Prof Mohamed Seedat dari Unisa (University of South Africa). “Aneka perilaku keseharian, berbagai bentuk tari, kesenian, budaya, dan lain-lain pasti akan mempengaruhi jalan pemikiran kita masing-masing. Karena itulah, pasti ada perbedaan perspektif antara Barat atau Utara, dengan Selatan.”

Selain UAD, Unisa juga bertindak selaku tuan rumah. Seedad juga mengajak serta kelompok peneliti SAMRC (South Africa Medical Research Council) untuk mengikuti seminar internasional tersebut. Kerjasama UAD dengan Unisa telah terjalin sejak 2017.

Forum ilmiah yang dibuka Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum itu menghadirkan pembicara dari berbagai negara. Antara lain Prof Husein Bulhan (Frantz Fanon Univerity, Somaliland), Dr Leigh Coombes (Massey University, NZ), serta dari SAMRC terdiri dari Prof Mohamed Seedad, Prof Shahnaaz Sufla, Dr Naiema Taliep, dan Dr Samed Bulbulia. Tak ketinggalan Dr Herlina Siwi Widiana (UAD).

Selain seminar, digelar pula workshop Psikologi Komunitas bertajuk Psychology of Oppression, Biocultural Community Psychology, dan juga tentang post disaster religious based psychological intervention. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan