Rendah Literasi Masyarakat pada Asuransi

Asuransi: Pengenalan produk asuransi sebagai salah satu upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat, digelar di Jogjakarta, beberapa waktu lalu.

Asuransi: Pengenalan produk asuransi sebagai salah satu upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat, digelar di Jogjakarta, beberapa waktu lalu.

JOGJA – Praktisi sebuah perusahaan asuransi di Indonesia menilai, literasi masyarakat Indonesia terhadap produk asuransi masih rendah. Karenanya, perusahaan asuransi itu mendorong literasi keuangan di masyarakat, terutama di bidang asuransi. Langkah memahamkan masyarakat tentang seluk beluk asuransi pun merupakan upaya mendukung program pemerintah.

“Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan, literasi keuangan di Indonesia sekitar tigapuluh tiga persen. Namun, inklusinya sudah enampuluh enam persen,” kata Chief Marketing Officer Prudential Indonesia, Luskito Hambali, di Jogjakarta, beberapa waktu lalu.

Rendahnya tingkat literasi keuangan, imbuhnya, menyebabkan banyak masyarakat belum paham tentang pentingnya produk-produk keuangan. Termasuk keuangan di bidang asuransi. “Data rendahnya literasi menjadi cerminan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap arti penting proteksi dan investasi untuk masa depan,” tegas Luskito.

Data tersebut, di sisi lain, menunjukkan penetrasi keuangan termasuk asuransi masih terbuka lebar. Persentase masyarakat yang memanfaatkan produk-produk asuransi masih kecil dibandingkan total populasi. “Kami mendorong edukasi jangka panjang. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang dan proteksi asuransi harus semakin ditingkatkan,” ujar Luskito.

Perusahaan asuransi itu pun meluncurkan produk baru. Prulink Generasi Baru dan Prulink Syariah Generasi Baru, yang secara marathon dilakukan di delapan kota. Selain Jogjakarta, peluncuran serupa digelar di Jakarta, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar, Surabaya, dan Bandung. “Produk baru itu didesain dengan banyak kelebihan. Di antaranya keringanan biaya administrasi, tambahan alokasi investasi, dan lain-lain,” papar Luskito kemudian.

Dua produk generasi baru tersebut menawarkan fitur-fitur utama yang inovatif dan menjadi unggulan. Seperti PRUbooster investasi, yang pertama kali di pasar, di mana nasabah akan mendapatkan tambahan alokasi investasi setiap tahun. PRUbooster proteksi, nasabah dapat memilih agar uang pertanggungannya meningkat setiap tahun tanpa perlu pernyataan kesehatan.

Alokasi investasi terbentuk sejak hari pertama, dua kali nilai uang pertanggungan apabila nasabah meninggal dunia akibat kecelakaan. Pun, tidak ada biaya administrasi apabila menggunakan transaksi elektronik dan autodebit rekening, sesuai syarat dan ketentuan.

Tersedia pula beragam pilihan manfaat tambahan (riders) termasuk dua riders baru, PRUtotal & permanent disablement serta PRUcritical hospital cover, yang keduanya memiliki opsi konvensional maupun syariah, serta dana investasi sesuai toleransi risiko nasabah.

“Masyarakat perlu memahami betul, kebutuhan masa depan mereka. Rencana keuangan jangka panjang dan toleransi mereka terhadap risiko. Perlu pula mempelajari jenis-jenis produk asuransi jiwa yang sesuai dengan kebutuhan perlindungan mereka sebelum memilih,” tandas Luskito. (ful)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan