Rendah Literasi tentang Asupan Nutrisi

Blackmores: (kanan-kiri) Donita, dr Phitra Sekar Dianggra SpGK, Dian, dr Edo Raditya SpOG dipandu pembawa acara, menyampaikan pentingnya asupan nutrisi dan kecukupan gizi, yang antara lain bisa ditingkatkan melalui konsumsi suplemen Blackmores.

Blackmores: (kanan-kiri) Donita, dr Phitra Sekar Dianggra SpGK, Dian, dr Edo Raditya SpOG dipandu pembawa acara, menyampaikan pentingnya asupan nutrisi dan kecukupan gizi, yang antara lain bisa ditingkatkan melalui konsumsi suplemen Blackmores.

JOGJA – Kesehatan fisik dan psikologis sangat penting bagi ibu hamil dan menyusui. Tak kalah penting asupan nutrisi guna menjaga tumbuh kembang anak selama 1000 hari pertama kehidupannya. Hanya saja, masyarakat masih belum memahami benar pentingya asupan nutrisi ataupun kecukupan gizi terkait kesehatan ibu dan anak itu.

Masih rendah literasi masyarakat kita terkait dengan pentingnya asupan nutrisi atau kebutuhan gizi bagi ibu hamil dan menyusui, maupun untuk menjaga tumbuh kembang anak terutama selama 1000 hari pertama kehidupannya. “Orang kita itu malas membaca,” ungkap dr Edo Raditya SpOG, di sela Kampanye Bunda PAS (Peduli Asupan Sehat), di Jogjakarta, Sabtu (13/10).

Karena malas membaca, lanjutnya, masyarakat lebih banyak menuruti apapun yang disarankan dokter tanpa berupaya bertanya atau mencari tahu tentang kandungan nutrisi dari obat atau suplemen yang diberikan dokter tersebut. “Padahal, sebenarnya, kebutuhan obat atau suplemen bagi setiap pasien itu berbeda-beda,” tegas Edo, yang juga Pemilik dan Wakil Direktur Pelayanan Medis di RSU Griya Mahardika Jogjakarta itu.

Masyarakat kita, timpal dr Phitra Sekar Dianggra SpGK, masih lebih percaya pada apa kata tetangga terkait dengan asupan nutrisi ataupun kebutuhan gizi. “Katanya begini. Katanya begitu. Dan masyarakat kita sering lebih percaya itu tanpa mencari tahu kebenarannya pada ahlinya,” tutur dokter spesialis gizi klinik pada kampanye yang digagas Kalbe Blackmores Nutrition itu.

Terkait dengan kebutuhan nutrisi atau gizi yang diperlukan, imbuh Phitra, masyarakat kita lebih memilih makan enak tanpa peduli kandungan gizi di dalam makanan itu. “Kita lebih senang membeli cilok, misalnya, ketimbang membeli telur karena rasa cilok lebih enak. Padahal, dengan harga yang sama, kandungan gizi di dalam telur jauh lebih tinggi daripada cilok,” tandasnya.

Kondisi itulah yang antara lain menyebabkan AKI (angka kematian ibu) menurut data SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) pada 2015 masih terbilang tinggi, 305 per 100.000 kelahiran hidup. Data nasional dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 pun menunjukkan prevalensi risiko KEK (Kekurangan Energi Kronis) pada wanita hamil sebesar 24,2 persen.

KEK merupakan status kurang gizi yang disebabkan oleh berkurangnya asupan nutrisi dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga menyebabkan gangguan yang akan terjadi pada kesehatan si ibu dan janin yang dikandungnya. “Biasanya terjadi pada perempuan usia subur, 15-45 tahun,” papar Phitra.

Karena itu pula kegiatan Kampanye Bunda PAS diselenggarakan guna memberikan edukasi, terutama bagi ibu hamil dan menyusui, terkait dengan nutrisi dan kecukupan gizi. “Jogja merupakan kota keempat, setelah sebelumnya kami gelar di Jakarta, Bandung, dan Surabaya,” jelas Dian selaku Marketing Manager Kalbe Blackmores Nutrition.

Pesohor ibukota, Donita, mengaku sangat merasakan manfaat suplemen Blackmores tersebut. “Saya mengkonsumsi suplemen itu dan sangat saya rasakan manfaatnya bagi saya sendiri maupun bagi tumbuh kembang dua anak saya,” tuturnya kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan