Revitalisasi Peran Koperasi Sebagai Soko Guru Perekonomian

Anggota MPR RI GKR Hemas saat menyampaikan materi sosialisasi Pancasila kepada penguru Koperasi di DIJ beberapa waktu lalu

Anggota MPR RI GKR Hemas saat menyampaikan materi sosialisasi Pancasila kepada penguru Koperasi di DIJ beberapa waktu lalu

JOGJA – Sebagai soko guru perekonomian Indonesia, keberadaan koperasi tidak lagi dianggap penting. Mayoritas koperasi yang ada pun merupakan koperasi simpan pinjam.
Anggota MPR RI GKR Hemas menyatakan, kondisi koperasi di Indonesia maupun DIJ, secara umum mengalami penurunan. Baik dari kualitas maupun kuantitas. “Harus diakui koperasi di era sebelum reformasi) sangat dimanja oleh Pemerintah sehingga mempunyai keleluasan dalam bergerak,” tuturnya dalam kegiatan sosialisasi Pancasila bagi para pengurus Koperasi di DIJ di Keraton Kilen beberapa waktu lalu.
Tapi Hemas mengaku sangat kagum dan mengapresiasi kepada perempuan-perempuan yang aktif dalam kegiatan ekonomi koperasi. Menurut dia kiprah perempuan di bidang Koperasi sangat penting dan strategis. Kenapa?
“Pertama, hingga hari ini ekonomi koperasi yang merupakan amanat UUD 1945 belum menjadi sokoguru ekonomi Indonesia,” jelasnya.
Kemudian, lanjut anggota DPD RI itu, dengan terjun ke dunia ekonomi koperasi berarti sedikit banyak kaum perempuan telah memberikan kontribusi tentang amanat UUD 1945 pasal 33 itu. Juga mengembangan koperasi berarti mengembangkan filosofi Jawa Hamemayu Hayuning Bawono dalam bidang ekonomi. “Berarti bahwa kaum ibu yang aktif di dunia ekonomi koperasi diharapkan tidak hanya dapat imbalan yang bersifat fisik tetapi juga non-fisik,” ungkapnya.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIJ Srie Nurkhayatsiwi mengatakan, keberadaan bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) harus bisa ditangkap peluangnya. Yaitu sebagai tempat pemasaran produk binaan koperasi.
“Adanya NYIA ini, harapan Gubernur juga bisa ikut menggairahkan perekonomian pelaku koperasi,” ujarnya.
Siwi mengakui saat ini koperasi yang banyak dikenal di masyarakat adalah KSP. Tapi dirinya ingin mengubah pandangan masyarakat jika koperasi hanya untuk simpan pinjam saja. “Apalagi kalau hanya pinjam, tidak pernah simpan,” katanya disambut tawa hadirin. (tom)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan