Revolusi Industri 4.0 Bukan Sekadar Teknologi

Dies Natalis: Paduan Suara Mahasiswa USD 'Cantus Firmus' membawakan beberapa lagu pada puncak peringatan Dies Natalis Ke-63 kampus tersebut, di auditorium kampus setempat, Jumat (21/12).

Dies Natalis: Paduan Suara Mahasiswa USD ‘Cantus Firmus’ membawakan beberapa lagu pada puncak peringatan Dies Natalis Ke-63 kampus tersebut, di auditorium kampus setempat, Jumat (21/12).

JOGJA – Revolusi Industri 4.0 bukan hanya soal teknologi. Lebih dari itu, merupakan perkara kemasyarakatan dan kemanusiaan. Reaksi kita akan ikut menentukan masyarakat dan kemanusiaan macam apa yang menanti kita di masa depan.

“Pendalaman tema revolusi industri 4.0 pada akhirnya menantang kita untuk memaknai motto cerdas dan humanis secara baru,” tandas dosen Pascasarjana USD (Universitas Sanata Dharma) Jogjakarta, Benedictus Hari Juliawan SJ MPhil, saat menyampaikan pidato ilmiah pada puncak peringatan Dies Natalis ke-63 USD, di kampus setempat, Jumat (21/12).

Kecerdasan buatan, lanjutnya, ternyata membuat usang apa yang kia anggap sebagai keunggulan manusia. Sekaligus memaksa kita berpikir ulang tentang hakikat manusia. Mesin pun telah dan akan menggantikan peran manusia dalam banyak hal.

Tapi, ternyata pula yang terpenting dalam kemanusiaan kita bukanlah otak melainkan hati yang terwujud dalam interaksi antar-manusia dan relasi yang kita bangun dengan sesama. “Kreatif dan interaktif, itulah kunci sesungguhnya guna menyongsong fajar baru penuh tantangan ini,” tutur Rama Benny, panggilan sehari-harinya.

Kecerdasan buatan, robotik, 3d printing memungkinkan otomatisasi yang menggantikan peran manusia. “Kalau kerja kebanggaan manusia itu bisa digantikan robot, lalu apa sebenarnya yang menentukan kemanusiaan kita? Jawabannya adalah kreativitas,” tandas Rama Benny.

Betapapun canggihnya teknologi mesin cerdas saat ini, tetaplah sebuah alat. Mesin bukan pencipta. “Mesin tidak punya kreativitas, dan yang tak bisa dikerjakan oleh mesin cerdas, mungkin kunci bagi refleksi kita di perguruan tinggi,” ujarnya kemudian.

Kalangan perguruan tinggi ramai-ramai menyikapi geger revolusi industri 4.0 dengan mengidentifikasi keterampilan dan jurusan yang mengajarkan kefasihan teknis. Orientasinya terbatas pada keterampilan teknis dan menyiapkan tenaga teknis yang sebenarnya bisa digantikan oleh robot generasi berikutnya.

Yang kerap dilupakan, kreativitas yang berada di balik penciptaan mesin-mesin cerdas itu. Manusia adalah pencipta yang kreatif. “Kita merayakan seni, menulis, dan membuat film. Kita mencari solusi untuk mengatasi kemiskinan, menciptakan obat untuk menyembuhkan penyalit, dan mengatasi rintangan alam,” tandas Rama Benny.

Kreativitas dipupuk melalui kebiasaan berpikir kritis, berimajinasi tanpa takut melanggar tabu dan berefleksi sampai kedalaman. “Lebih penting daripada mengajarkan keterampilan teknis sesuai pasar kerja, adalah menyediakan ruang dan mendorong kreativitas,” tutur Rama Benny lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan