Ribuan Bregada Rakyat Siap Penuhi Alun-Alun Wates

 IMG_20171125_171323
JOGJA – Sekitar dua ribu personil bregada rakyat se-Daerah Istimewa Yogyakarta akan berkumpul mengikuti Festival Bregada Rakyat DIY Ke V Tahun 2017. Kegiatan ini dipusatkan di Alun-Alun Wates, Kulonprogo pada Minggu (26/11).
Tiga puluh kelompok bregada rakyat siap berpartisipasi. Di antaranya, Bregada Asem Gede, Satria Menoreh, Reksa Budaya, Manggala Sari, Arum Sebada, Jati Manggala, Taruna Manggala, Suling Gading, Lestari Budaya, Tanjung Anom, Gulurejo, Anggara Panuntun, Pagerharjo, Kendil Wesi, Sapta Raga, Sogan, Kalirejo, Jatimulya, Brosot, Biru, Niti Manggala, Candrasasi,  Dandang Rekso, Agung Guno Joyo, dan Winata Manggala.
Festival Bregada Rakyat akan diawali dengan apel akbar pukul 13.00. Apel akbar diisi pembacaan ikrar kesetiaan terhadap Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Kadipaten Pakualaman sebagai manifestasi keistimewaan DIY.
“Ikrar kesetiaan kepada Pancasila dan NKRI penting dilakukan sebagai salah satu upaya merawat jiwa nasionalisme serta menangkal munculnya sikap intoleransi dan radikalisme di kalangan komponen warga masyarakat. Khususnya, penggiat seni keprajuritan rakyat,” jelas Widihasto Wasana Putra, ketua panitia.
Menurutnya, ikrar kesetiaan kepada Kasultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman di bawah kepemimpinan dwi tunggal Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paduka Pakualam X memiliki arti penting menjaga kemanunggalan, nyawiji golong gilig saiyeg seko kapti, antara rakyat (kawula)  dengan pemimpin (raja).
Seusai apel akbar, seluruh kelompok bregada rakyat akan melakukan kirab mengelilingi Alun-Alun Wates untuk kemudian berakhir di gedung DPRD Kabupaten Kulon Progo. Jarak tempuh sekitar 1,8 kilometer. Kirab diawali dengan marching band dan Paskibraka dari siswa-siswi pelajar Kulon Progo.
Festival Bregada Rakyat DIY yang diselenggarakan Pokja Penguatan Lembaga Pengelola dan Pelestari Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu baik para pelaku dan penggiat seni keprajuritan rakyat maupun masyarakat umum yang ingin menyaksikan secara dekat penampilan bregada rakyat. Atraksi bregada rakyat yang terekspresikan dari cara berjalan, musik, dan kostum yang khas menjadi daya tarik masyarakat.
Fenomena maraknya kemunculan bregada rakyat patut disyukuri. Sebab, keberadaannya turut mewarnai dinamika kebudayaan di DIY.
Seni keprajuritan yang kini tumbuh di kampung-kampung menjadi salah satu penanda keistimewaan warga masyarakat DIY. Berdasarkan catatan keberadaan bergada rakyat hanya terdapat di DIY. Di daerah lain di Indonesia yang juga memiliki entitas kerajaan tidak ditemui keberadaan berada rakyat.
“Kehadiran kelompok-kelompok bregada sedikit banyak ikut menggerakkan perekonomian. Pesanan busana adat seperti blangkon, topi, surjan lurik, kain batik, keris, tombak, panah dan aksesori lainnya hingga produsen alat musik seperti tambur,  terompet, suling dan sebagainya pun meningkat,” ujar Widihasto.
Bregada rakyat merupakan bregada imitasi atau tiruan dari bregada Kraton maupun Puro Pakualaman. Pihak Kraton seperti dikutip dari pernyataan Penghageng Panitro Puro Kasultanan Ngayogyakarta Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono, menyatakan mendukung inisiatif masyarakat membentuk bregada rakyat. Namun, desain kostum atau seragam tidak diperkenankan sama persis dengan seragan bregada kraton.
“Logikanya adalah sama dengan kedudukan seragam TNI/Polri, yang mana masyarakat yang membuat seragam pengamanan atau satuan tugas tidak boleh menyamainya secara persis,” tegasnya. (ist)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan