Ritual Jamasan Kereta Keraton Rotowijayan

IMG_20161009_213609
Bambang Sugiharto/Jurnal Jogja
JOGJA (jurnaljogja.com) – Ritual mencuci kereta keraton, masih jadi daya tarik masyarakat Jogjakarta. Buktinya, sejumlah orang masih berebut ‘banyu klemuk’ (air bekas cucian) kereta keramat Kanjeng Nyai Jimat, saat dibersihkan di Museum Kereta Keraton Rotowijayan, Kecamatan Keraton  Ngayogyakarta Hadiningrat, Jumat (7/10) lalu.  
    Jamasan kereta keramat milik keraton tersebut diawali dengan kereta Kanjeng Nyai Jimat ‘titihan’ Sri Sultan Hamengku Buwono I. Kereta ini kali pertama yang dimiliki Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.. Saat kereta keluar dari tempat penyimpanan, sejumlah warga yang menyaksikan langsung menyeruak ke depan untuk berebut banyu klemuk.
     Jalamasan dlanjutkan untuk Kereta Landower Ngabean, yang merupakan ‘titihan’ Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Kereta kedua ini, lebih kecil dan ramping dibanding kereta Kanjeng Kiai Jimat. Saat itulah puluhan orang langsung menyeruak ke depan untuk berebut ‘banyu klemuk’ atau air bekas cucian kereta. Air bekas cucian kereta itu dimasukkan ke dalam bekas botol mineral bawaan mereka dari rumah.
    Konon banyu klemuk itu bila untuk membasuhi muka atau cuci muka bisa membuat awet muda. Sedangkan bagi petani, air bekas cucian kereta tersebut bila ditaburkan ke lahan persawahan, bisa membuat tanaman menjadi subur. Alasan itulah sehingga mereka berebut banyu klemuk untuk dibawa pulang.
     Penawu Joyo Wasito, abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjelaskan, kereta keramat ini digunakan pada periode 1740 hingga 1750. Kereta Kanjeng Nyai Jimat, dulu sering digunakan Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga Sri Sultan Hamengku Buwono III.
     Kereta tersebut dibuat di Holland atau Belanda dan merupakan hadiah dari Gubernur Jenderal Jacob Mossel. ”Kereta Kanjeng Nyai Jimat hadiah dari Gubernur Jenderal Jacob Mossel,” katanya.
      Pencucian benda pusaka ini, dilakukan setiap Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon pertama pada bulan Suro. ”Setiap Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon pertama pada bulan Suro, benda-benda pusaka milik keraton dicuci atau dibersihkan, seperti pada upacara jamasan kali ini,” jelasnya. (bam)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan