RRI Mendengarkan Suara Pendengar

Salman (kiri) dan Yuliana Marta Doky

Salman (kiri) dan Yuliana Marta Doky

JOGJA – Sebagai stasiun radio milik pemerintah, RRI (Radio Republik Indonesia) terus berbenah. Dengan jaringan luas, di seluruh pelosok negeri, RRI terus berupaya melayani pendengar dengan kualitas program siaran yang berkualitas. Tak segan mendengarkan masukan pendengar sebagai modal untuk memperbaiki diri.

“Setiap saat kami terus menjalin dialog dengan masyarakat, dengan pendengar. Mereka banyak memberi masukan dan kami berupaya semaksimal mungkin mengakomodir suara mereka,” ungkap Kepsta (Kepala Stasiun) RRI Jogjakarta, Drs Salman, kepada wartawan, di ruang kerjanya, Jumat (24/8), berkaitan dengan Hari Radio ke-73, yang diperingati setiap 11 September.

Merangkul berbagai segmen pendengar, lanjut Salman, RRI saat ini memiliki empat programa. Masing-masing RRI Pro (Programa)-1 yang lebih banyak menyiarkan berita maupun siaran umum, RRI Pro-2 dengan sebagian besar program siaran untuk anak-anak muda hingga usia 25 tahun, RRI Pro-3 untuk merelai siaran RRI Pusat, serta RRI Pro-4 yang lebih banyak menyajikan siaran-siaran seni budaya.

Mencontohkan Pro-4 yang banyak menyajikan seni budaya lokal, Salman mengemukakan, siaran Uyon-uyon tenyata sangat disukai oleh warga Gunung Kidul, DIY. “Meskipun begitu, bukan berarti PRO-4 tidak menyiarkan seni budaya daerah lain. Seni budaya Papua, misalnya, juga kami siarkan,” tegasnya.

Agar siaran bisa diterima pendengar secara lebih jernih, RRI pun mermasang antena pemancar dengan jangkauan radius lima kilometer, di bukit Pathuk, Gunung Kidul, DIY. Antena pemancar itu melengkapi antena yang sudah dimiliki sebelumnya, yang memiliki jangkauan hingga 15 kilometer.

Bukan hanya siaran audio, guna melayani masyarakat lebih luas lagi, siaran RRI saat ini juga bisa diakses melalui playstore sehingga bisa dinikmati pendengar di mana pun berada di belahan dunia ini. RRI juga memiliki media online. Dan untuk siaran audio visual, RRI kini juga sudah mengembangkan RRI.net. “Bukan sekadar mengejar jumlah pendengar, tapi semua itu dikembangkan agar RRI bisa lebih baik dalam melayani pendengar ataupun masyarakat luas,” tutur Salman kemudian.

Kepala Bidang Penyiaran RRI Jogjakarta, Yuliana Marta Doky SSos yang juga Ketua Peringatan Hari Radio mengemukakan, rangkaian kegiatan memperingati Hari Radio di Jogjakarta dimulai dengan napak tilas peran RRI di zaman Kemerdekaan. Selanjutnya digelar berbagai kegiatan internal maupun yang melibatkan berbagai pihak, pada 24 Agustus hingga 11 September 2018.

Beberapa kegiatan yang melibatkan pihak luar, antara lain RRI Masuk Pasar dan Bupati Menyapa di Kulonprogo, DIY. Talkshow refleksi Hari Radio bertajuk Sinergi Membangun Negeri dengan pembicara utama rektor UGM. Senam massal anak TK se Jogjakarta, serta pentas orkestra musik Angklung Bambu Melulu dan Gejog Lesung bekerjasama dengan ISI Jogjakarta sekaligus menggalang dana untuk masyarakat Lombok. “Sebagai puncak acara dilakukan upacara dengan penyulutan obor Tri Prasetya,” papar Yuliana kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan