Sainstek Harus Tingkatkan Martabat Manusia

Doktor Baru: (dari kiri) Damar Widjaja PhD selaku moderator, Drs Haris Sriwindono MKom PhD, Augustinus Bayu Primawan DTechSc pada seminar Doktor Baru, di kampus USD, Jumat (27/4).

Doktor Baru: (dari kiri) Damar Widjaja PhD selaku moderator, Drs Haris Sriwindono MKom PhD, Augustinus Bayu Primawan DTechSc pada seminar Doktor Baru, di kampus USD, Jumat (27/4).

JOGJA – Menghadirkan pencerahan yang mencerdaskan di bidang sains dan teknologi bagi masyarakat, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma Jogjakarta tak ingin menjadi menara gading pendidikan tinggi. Arah penelitian pun ditetapkan dengan dasar sains dan teknologi haruslah menjadi alat bagi peningkatan martabat manusia. Bukan sebaliknya.

Sebagai salah satu ujud upaya untuk ikut menghadirkan pencerahan yang mencerdaskan di bidang sains dan teknologi bagi masyarakat, hasil penelitian para dosen FST USD terutama para doktor baru didiseminasikan dan didiskusikan dalam rangkaian seminar Doktor Baru ‘Sanata Dharma Berbagi’ 2018.

Untuk April ini, seminar yang dilaksanakan di ruang seminar LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) USD, Jumat (27/4), menampilkan dua orang doktor baru Augustinus Bayu Primawan DTechSc dengan tema GIS4TI: Data Spasial dalam Perencanaan Jaringan Telekomunikasi, serta Drs Haris Sriwindono MKom PhD memaparkan tema Model Penerimaan Teknologi Informasi.

Jaringan telekomunikasi yang andal, menurut Bayu, membutuhkan perencanaan optimal. Keandalan sebuah layanan telekomunikasi, salah satunya ditentukan oleh cakupan layanan. Karena itu data spasial dapat digunakan untuk merencanakan sebuah jaringan telekomunikasi, khususnya dalam penentuan lokasi. “Dalam hal ini optimalisasi lokasi maupun penentuan lokasi,” tandasnya.

Penentuan lokasi prioritas menjadi penting untuk memperoleh gambaran sejauh mana sebuah jaringan telekomunikasi memberikan kualitas layanan yang optimal. “Model generik untuk penentuan lokasi prioritas masih perlu dikembangkan mengingat karakteristik suatu daerah cakupan tidak sama,” tutur Bayu kemudian.

Haris selaku pembicara kedua mengemukakan, sebuah produk teknologi pada umumnya ditujukan untuk dimanfaatkan dan mempermudah aktifitas pemakai namun belum tentu produk yang sudah jadi dapat diterima oleh pemakai. “Produk proyek teknologi informasi, misalnya memiliki tingkat kegagalan yang cukup tinggi,” ungkapnya.

Salah satu cara melihat kegagalannya, dengan mengukur tingkat penerimaan pemakai terhadap suatu produk. “Model awal penerimaan teknologi telah banyak disusun di negara-negara Barat, sehingga banyak pihak mempertanyakan apakah model tersebut sesuai bila diterapkan di Indonesia atau di negara berkembang,” ujar Haris.

Dengan mengetahui model penerimaan suatu produk teknologi, akan dapat dipersiapkan perencanaan pembuatan produk tersebut – khususnya produk teknologi informasi – secara lebih baik sehingga nantinya dapat diterima oleh pemakai. “Dengan kata lain, tingkat kegagalannya rendah,” tandas Haris seraya menambahkan, disinyalir faktor manusia dan budaya memegang peranan penting terhadap penerimaan teknologi. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan