Sajian Atraksi Taman Nasional Kalimutu Belum Berkembang Baik

IMG_20170806_104248
JOGJA (jurnaljogja.com) –  Taman Nasional Kalimutu (TNK) di Kabupaten Ende, Flores merupakan salah satu bentuk ekowisata yang dikembangkan melalui tatakelola CBT (community based tourism). Namun bentuk ekowisata CBT itu belum mencerminkan ekowisata yang sejalan dengan prinsip-prinisp ekowisata, CBT dan pembangunan pariwisata  berkelanjutan.
     Akibatnya, kata  Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Flores (Uniflor) Josef Alfonsius Gadi Djou, SE, MSi, bentuk ekowisata yang terwujud hanya stagnan, biasa-biasa saja dan belum bisa berkembang  secara optimal. “Seluruh sajian atraksi (alam, budaya, buatan) beserta kondisi aksesibilitas dan amenitas yang tersedia tidak berkembang membaik, tetapi hanya biasa-biasa saja seperti sediakala,” sebutnya saat mempertahankan disertasinya untuk meraih derajat doktor pada Program Studi Kajian Pariwisata di Sekolah Pascasarjana UGM Jogjakarta, Senin (31/7).
     Dalam disertasinya “Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kalimutu Kabupaten Ende” disebutkan, munculnya bentuk ekowisata seperti itu merupakan akibat dari bentuk tatakelolanya yang masih menggunakan mekanisme partisipasi  simbolik dan melalaikan prinsip-prinsip ekowisata, CBT dan pembangunan pariwisata berkelanjutan. “Akibatnya, berbagai sajian atraksi menjadi tidak bisa berkembang dengan baik atau hanya stagnan tersebut,” jelasnya.
    Menurut promovendus, kondisi ini berdampak lanjut  terhadap bentuk respon yang diberikan oleh para wisatawan. “Mayoritas wisatawan merasa belum puas dengan sajian objek atraksinya, karena objek-objek atraksi tersebut terlihat kurang terawat, usang dan terbengkelai,” tandasnya.
      Selain itu, lanjutnya, wisatawan juga kecewa dengan kondisi beberapa fasilitas tambahan yang tidak terawat, kurang bersih, dan banyak ditumbuhi rumput liar beserta sampah di sekelilingnya. Kenyataan seperti ini semakin memperkuat pandangan bahwa dalam pengelolaan ekowisata TNK, prinsip-prinsip ekowisata, CBT dan pembangunan pariwisata berkelanjutan belunm menjadi kerangka acu dalam pengelolaan sumber daya ekowisatanya.
    Promovendus menyarankan  beberapa hal yang  perlu diperhatikan dalam pengelolaan TNK ke depan. Yakni, secepatnya pihak TNK mengimplementasikan perencanaan partisipatif dengan benar, murni dan tidak palsu. Selain itu, pihak TNK harus secepatnya melibatkan partisipasi masyarakat lokal untuk ikut berpartisispasi dalam perawatan, penataan dan pemeliharaan objek-objek atraksi sesuai dengan aturan dan hasil perencanaan partisipatif yang diperbaharui tersebut. (bam)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan