Sastra Penting Untuk Pembangunan Karakter Bangsa

Prof Dr Suroso MPd

Prof Dr Suroso MPd

JOGJA – Nilai-nilai religiusitas dan humanitas dalam teks sastra menjadi penting dan dapat dimanfaatkan dalam pembangunan karakter bangsa, melalui cerita rakyat, mengenalkan tokoh-tokoh yang sudah ditulis dalam bentuk biografi dan autobiografinya, membaca karya sastra yang merekam kehidupan sehari-hari dalam feature kisah atau cerita pendek, serta membaca teks sastra sesuai dengan konteks budayanya.

Kendati begitu, paradigma sastra berbeda dengan agama, filsafat, dan sejarah, sehingga ada perbedaan strategi dalam mempelajari dan menyikapi sastra, khususnya dalam menangkap pesan di dalamnya. Sastra bukan filsafat mengenai dikotomi benar salah, baik buruk, dan indah jelek. Sastra bukan pula sejarah yang berbicara tentang fakta masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.

“Sastra bersifat imajinatif. Pembaca dipersilakan berimajinasi terhadap berbagai informasi dalam teks sastra. Namun demikian, karya sastra juga memenuhi prinsip unsur kemasukakalan, keutuhan, keseimbangan, kebaruan. Sastra juga memiliki kemanfaatan dan kesenangan,” ungkap Prof Dr Suroso MPd dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam bidang Pembelajaran Sastra Indonesia pada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, di kampus setempat, Rabu (14/3).

Dalam pidato bertajuk Religiusitas dan Humanitas dalam Sastra Indonesia Modern, itu Suroso mengatakan, selain menyampaikan ide dan persoalan yang terjadi di masyarakat, sastra juga menyampaikan pesan dengan media bahasa secara tidak langsung melalui tindakan, peristiwa yang dialami tokoh, penggambaran latar atau suasana dan jalan cerita.

Guru besar UNY ke-135 dan FBS ke-28 itu juga mengemukakan, sastra disampaikan dalam bahasa yang padat makna berupa puisi, dalam paparan wacana yang panjang dalam bentuk novel, dan dalam paparan dialog serta petunjuk lakuan dalam bentuk drama. “Orang yang memiliki kesenangan dan kemampuan membaca sastra akan memiliki kecerdasan yang lebih atas perilaku manusia, pemahaman tempat, peristiwa, dan persoalan yang dihadapi manusia,” tegas Suroso.

Sastra yang bersumber dari kehidupan manusia, menurut pria kelahiran Kediri, 30 Juni 1960, itu mengandung nilai religiusitas, humanitas, dan universalitas. Persoalan sejarah, ketidakadilan, kejujuran, cinta kasih, pengorbanan, lingkungan hidup dan kemakmuran, yang melekat dari tokoh sastra dan peristiwanya menjadi pesan yang tidak terelakkan dalam wacana sastra.

Orang yang memiliki nilai religiusitas dan humanitas, tidak melakukan tindakan tercela. Sastra, walaupun secara tidak langsung, dapat membentengi kegiatan amoral. Sastra memberi pencerahan melalui tokoh, peristiwa, persoalan, maupun latar religi dan budaya. Namun, keputusan mengambil hikmah dari tokoh-tokoh yang ada dalam karya sastra tergantung dari pembacanya.

“Hal itu karena sastra bukan filter untuk memilah benar-salah, baik-buruk, pantas-tidak pantas. Sastra menyampaikan fakta imajinatif. Walaupun menyampaikan fakta-fakta sejarah, sosial budaya, psikologi, tetap saja dalam bingkai imajinasi dan pemaknaannya ada dalam benak pembaca,” tandas Suroso.

Jika sastra dianggap penting sederajat dengan kedudukan bahasa Indonesia, perlu ada upaya pendidikan sedemikian rupa agar setiap anak Indonesia mengenal sastra nasionalnya secara baik. “Melalui politik pendidikan kesastraan, diharapkan bangsa Indonesia mampu memahami kebudayaan dan pikiran bangsanya. Mampu berkepribadian Indonesia dan menghargai karya-karya kemanusiaan bangsa lain melalui penerjemahan karya sastra,” tutur Suroso lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan