Sedikit Masyarakat Paham Pasar Modal

 IMG_20170606_151056
  Sejumlah peserta serius mengikuti seleksi nasional CMPDP, di kampus UMY, Sabtu (3/6).
JOGJA – Survei nasional tentang literasi keuangan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) menunjukkan, baru sekitar 29,66 persen penduduk Indonesia yang memiliki kategori well literate atau melek pengetahuan keuangan. Tingkat literasi terhadap pasar modal dan tingkat utilitas produk pasar modal pun tercatat masih jauh tertinggal dibandingkan dengan industri jasa keuangan lainnya, yakni sekitar 4,4 persen.
“Padahal, dengan dimotori PT BEI (Bursa Efek Indonesia) ada keinginan untuk menjadikan pasar modal Indonesia menjadi yang terbaik, minimal di kawasan Asean, pada 2020,” tutur Kepala Kantor Perwakilan BEI Jogjakarta, Irfan Noor Riza, di kampus UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Sabtu (3/6).
Karenanya, selain harus melakukan sosialisasi dan edukasi secara masif, pasar modal Indonesia juga dituntut memiliki tenaga profesional yang kompeten dan mampu menjawab tantangan di masa depan. “Hanya, sampai saat ini tenaga profesional di industri pasar modal Indonesia yang memiliki kompetensi dan sesuai dengan kebutuhan bisnis pasar modal jumlahnya masih minim,” ujar Irfan.
Penyiapan SDM yang memadai dan berkualitas, tandas Irfan, menjadi program yang harus mendapatkan prioritas dari seluruh organisasi pelaku pasar modal. “Untuk itulah hari ini di kampus ini kami menyelenggarakan seleksi nasional guna memenuhi kebutuhan SDM tersebut,” jelasnya kemudian.
Secara bersama, BEI, KPEI (PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia), dan KSEI (PT Kustodian Sentral Efek Indonesia) selaku SRO (Self-Regulatory Organization) kembali menggelar CMPDP (Capital Market Professional Development Programme).
CMPDP, imbuh Irfan, memiliki tujuan jangka menengah dan panjang dengan cara mempersiapkan talent-talent pasar modal yang akan menjawab tantangan di masa depan dan membantu menggerakkan industri pasar modal Indonesia. Proses seleksi, rekrutmen, dan pengembangan CMPDP dilakukan oleh TICMI (The Indonesia Capital Market Institute).
Jumlah pelamar CMPDP secara nasional pada 2017 ini tercatat 4.800 orang peserta. Setelah melalui proses seleksi administrasi, seleksi tertulis CMPDP dilaksanakan secara serentak di 26 kota besar di Indonesia, termasuk Jogjakarta, pada 3-4 Juni.
Peserta yang lulus tes tertulis akan mengikuti serangkaian tes lainnya hingga terpilih 30 peserta terbaik yang akan mengikuti 12 bulan program pengembangan dan enam bulan on the job training. “Nantinya setiap lulusan CMPDP akan ditempatkan untuk bekerja di SRO atau afiliasinya,” papar Irfan.
Jumlah peserta CMPDP di Jogjakarta tahun ini mencapai 202 orang. Cukup besar dan meningkat dibandingkan tahun lalu 135 orang. “Animo masyarakat di Jogjakarta dan sekitarnya untuk memanfaatkan peluang kerja di pasar modal cukup besar, memang. Bahkan Jogjakarta tercatat sebagai kota dengan jumlah terbanyak keempat setelah Jakarta, Surabaya, dan Bandung,” tutur Irfan. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan