Sedotan Plastik Tak Ada Lagi Di KFC

(kiri-kanan) Amrullah Rosadi, Hendra Yuniarto, Swietenia Puspa Lestari

(kiri-kanan) Amrullah Rosadi, Hendra Yuniarto, Swietenia Puspa Lestari

JOGJA – Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, sekitar 70 persen sampah plastik di Indonesia dapat dan telah didaur ulang. Namun, tidak dengan sedotan plastik. Walau panjangnya hanya 10 cm namun perlu 500 tahun agar sampah sedotan plastik dapat terurai secara alami.

“Sebagai komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan, KFC pun mencanangkan Gerakan Tanpa Sedotan. Tak akan ada lagi sedotan plastik di gerai-gerai di seluruh Indonesia,” ujar GM Marketing PT Fast Food Indonesia, Hendra Yuniarto, di Jogjakarta, Sabtu (3/11).

Sejak 2017, imbuh Hendra, pihaknya telah mulai mencanangkan Gerakan Tanpa Sedotan untuk wilayah Jabodetabek. Sejak Mei 2018 menjadi gerakan nasional dan 630 gerai KFC di seluruh Indonesia tak menyediakan langsung sedotan plastik dengan menghilangkan dispenser sedotan serta mengajak konsumen untuk tidak menggunakannya kecuali sangat membutuhkan.

Sampai akhir tahun ini, KFC menargetkan penggunaan sedotan akan turun hingga 54 persen di 630 gerai di seluruh Indonesia. “Kami berharap dapat semakin mengurangi penggunaan sedotan plastik dan berkontribusi dalam penyelamatan laut Indonesia dari sampah plastik,” tandas Hendra.

Amrullah Rosadi selaku Outreach Specialist DCA (Divers Clean Action) mengemukakan, setiap tahun sekitar sepertiga biota laut termasuk terumbu karang dan bahkan burung laut mati karena sampah plastik, termasuk sedotan plastik sekali pakai yang berakhir di lautan.

Penggagas DCA, Swietenia Puspa Lestari menjelaskan, rata-rata setiap orang menggunakan sedotan sekali pakai sebanyak 1-2 kali setiap hari dan perkiraan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang yang berasal dari restoran, minuman kemasan, maupun sumber lain.

Sedotan sekali pakai umumnya berbahan plastik tipe polypropylene yang tahan lama dan tak terdegradasi secara alami sehingga semakin lama menjadi butiran kecil mikroplastik yang sangat berbahaya bagi ekosistem laut. Pun, bagi tubuh manusia. “Fakta yang sangat mengkhawatirkan dan membuat kita harus bergerak melakukan perubahan,” tegas Puspa. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan