Sejumlah Alasan Ahli Indonesia Memilih Negara Asing

 IMG_20171011_103047
Evvy Kartini (kanan) saat memberikan penjelasan kepada wartawan.
JOGJA – Tak ada data pasti, memang. Perihal jumlah ahli asal Indonesia, termasuk ahli Ilmu Material, yang lebih memilih berkiprah di negara asing ketimbang di negeri sendiri. Ditengarai jumlahnya tidak sedikit. Potensi kepakaran di Indonesia memang sebenarnya tidak kalah dengan negara lain.
“Saya kira cukup banyak. Di Singapura saja hampir tiga puluh persen pakar yang ada, berasal dari Indonesia,” ungkap the President of MRS (Materials Research Society) – Indonesia, Prof Dr Evvy Kartini, di sela MRS-Ina Conference and Congress 2017, di Jogjakarta, Senin (9/10).
Sebenarnya, lanjut Evvy, pakar Ilmu Material di Indonesia jumlahnya ratusan orang. Namun keberadaan mereka selama ini terpencar-pencar, sangat spasial, ada di mana-mana namun sendiri-sendiri sehingga kiprah mereka terlihat kecil. Bahkan tidak tercatat. “Karena itulah MRS ingin menyatukan mereka ke dalam satu komunitas.”
Dengan menyatu, mudah-mudahan karya-karya mereka bisa lebih terlihat dan dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. “Barangkali ada empat ratusan pakar yang dimiliki Indonesia saat ini. Saya tidak membesar-besarkan. Dalam grup WA saya saja tercatat dua ratus orang doktor. Barangkali inilah grup WA paling bergengsi di Indonesia,” ujar Evvy setengah berseloroh.
Ironisnya, selain para pakar tersebut, banyak pula yang selama ini lebih memilih berkiprah di luar negeri. “Mereka tidak bisa disalahkan begitu saja. Kenyataannya fasilitas maupun infrastruktur di luar Indonesia itu lebih menjanjikan,” tutur Evvy.
Karena itu pula para ilmuwan yang ada di negara asing itu tidak harus memikirkan berbagai hal di luar ilmu yang mereka tekuni. “Mereka bisa lebih berkonsentrasi mengembangkan keilmuannya karena tak lagi harus memikirkan biaya riset, mencari alat atau laboratoriumnya, dan lain-lain,” imbuh Evvy.
Perhatian pemerintah pun sangat besar. Mestinya, pemerintah Indonesia bisa melakukan hal sama. Sayang, hingga saat ini perhatian pemerintah, termasuk dalam bidang Ilmu Material, masih sangat minim. Mestinya pemerintah bisa membangun fasilitas yang terpusat sehingga para ilmuwan kita tak harus tercerai-berai seperti sekarang ini.
“Barangkali itu pula yang menjadi alasan beberapa kawan ilmuwan kemudian lebih menyukai berkiprah di negara lain daripada di negeri sendiri. Padahal, jika dicermati, Ilmu Material itu bisa menjadi sangat strategis karena berbagai kemungkinan yang bisa dihasilkan dari penelitiannya. Misal, dalam hal pertahanan, dalam pembuatan mobil listrik, maupun pembuatan bahan material lainnya yang sangat penting,” tandas Evvy. (bam/rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan