Sekitar 5-10 Persen Sapi Alami Gangguan Reproduksi

 IMG_20170222_033255
 Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita (tengah), saat bertemu anggota Amervi, di Jogjakarta.
JOGJA – Pemerintah menggelontorkan dana Rp 1,1 triliun untuk mendorong produksi anakan sapi menjadi tiga juta ekor. Dana tersebut di antaranya akan digunakan untuk memperbaiki reproduksi sapi indukan yang selama ini tercatat masih rendah.
“Untuk itu, pemerintah menggandeng profesi dokter hewan guna menangani gangguan reproduksi melalui deteksi dini birahi, perbaikan pakan, inseminasi buatan, hingga penanganan penyakit gangguan reproduksi,” ujar Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, drh I Ketut Diarmita, dalam pertemuan dengan 500 Dokter Hewan yang tergabung dalam Amervi (Asosiasi Medik Reproduksi Veteriner Indonesia), di Jogjakarta, belum lama ini.
Ketua Amervi drh Agung Budiyanto MP PhD menyambut baik program pemerintah untuk mendorong populasi sapi melalui penanganan gangguan reproduksi sapi betina indukan, karena penyakit gangguan reproduksi masih menjadi kendala terbesar dalam peningkatan produksi populasi sapi di tanah air.
Sapi betina yang mengalami gangguan reproduksi, kecil kemungkinan akan bunting. Peran dan tugas dokter hewan di lapangan sangat menentukan tingkat keberhasilan dalam mendiagnosa, pengobatan dan evaluasi tingkat kesehatan reproduksi sapi. “Kita perkirakan sekitar 5-10 persen dari total populasi sapi kita saat ini mengalami gangguan reproduksi,” ujar Agung.
Diarmita menegaskan, kebijakan pemerintah untuk menggenjot produksi sapi betina tersebut akan direalisasikan melalui program Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting). “Keberhasilan program ini sangat bergantung pada peran dokter hewan yang bertugas di pusat kesehatan hewan di daerah maupun dokter hewan praktek mandiri,” katanya.
Dokter hewan merupakan garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan ternak terkait layanan teknis reproduksi, penanganan teknis inseminasi buatan hingga pengobatan pada penyakit gangguan reproduksi.
Selain soal gangguan reprosuksi, persoalan lain dalam meningkatkan produksi sapi adalah rendahnya kualitas pakan. “Lewat program ini akan kita perbaiki kualitas pakan sapi indukan,” janji Diarmita.
Dalam kesempatan tersebut Diarmita mengajak para praktisi dokter hewan untuk mensukseskan program pemerintah dalam rangka mencapai target swasembda sapi melalui peningkatan populasi sapi di tanah air mengingat kebutuhan konsumsi daging dari tahun ke tahun makin meningkat.
“Saya berharap dokter hewan yang tergabung dalam Amervi bisa mensukseskan program Upsus Siwab ini,”  tandas Diarmita. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan