Selamat Tinggal Cara Manual Untuk Mahasiswa Asing

Digitalisasi: Perwakilan sejumlah perguruan tinggi di Jogjakarta mengikuti pelatihan pemanfaatan teknologi digital untuk proses permohonan izin belajar bagi mahasiswa asing, di kampus UKDW Jogjakarta, Kamis (1/11).

Digitalisasi: Perwakilan sejumlah perguruan tinggi di Jogjakarta mengikuti pelatihan pemanfaatan teknologi digital untuk proses permohonan izin belajar bagi mahasiswa asing, di kampus UKDW Jogjakarta, Kamis (1/11).

JOGJA – Pemerintah melalui Kemenristekdikti dan Kantor Imigrasi kini ‘memudahkan’ mahasiswa asing yang ingin studi atau kuliah di Indonesia. Proses pendaftaran hingga untuk mendapatkan visa studi saat ini bisa dilayani melalui proses digital, tak lagi dengan cara manual. Sebagai percontohan, sistem digitalisasi itu dimulai di Jogjakarta.

“Digitalisasi pada layanan izin belajar mahasiswa asing ini sangat memudahkan dan memangkas waktu maupun biaya,” jelas Kasubdit Kerjasama Perguruan Tinggi Kemenristekdikti, R Purwanto Subroto PhD, di sela sosialisasi digitalisasi tersebut, di kampus UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) Jogjakarta, Kamis (1/11).

Bukan hanya memudahkan mahasiswa asing, tapi digitalisasi itu juga akan memudahkan perguruan tinggi yang dituju. Pun, bagi Kemenristekdikti dan Kantor Imigrasi, maupun instansi terkait lainnya. “Jika dulu saat manual harus membawa-bawa atau mengirim hard-copy sejumlah dokumen, kini tinggal klik,” tutur Purwanto.

Kepala Biro Kemahasiswaan, Alumni, dan Pengembangan Karir UKDW, Crisna Julius mengakui kemudahan, hemat waktu dan biaya dengan adanya sistem digital itu. “Jika dulu, paling tidak, memerlukan waktu tiga bulan, kini hanya hitungan hari, bahkan mungkin satu hari bisa selesai,” katanya.

Kasie Pemenuhan Teknis Sertifikasi Elektronik, Balai Sertifikasi Elektronik, BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara), Eko Yon Handri mengemukakan, penggunaan sistem digital juga lebih memastikan palsu tidaknya suatu dokumen. “Terutama saat kami harus memindai tandatangan dalam suatu dokumen,” tegasnya.

Kemenristekdikti menerima permohonan izin belajar, setidaknya 100-200 permohonan setiap bulan. Sehingga ada ribuan permohonan per tahunnya. “Dengan sistem digital yang telah terintegrasi dengan kantor imigrasi, jelas akan banyak sekali waktu yang bisa kami hemat untuk memrosesnya,” ungkap Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Jogjakarta, Sutrisno.

Sebagai percontohan dan sosialisasi digitalisasi, itu Kemenristekdikti memang sengaja memulainya dari Jogjakarta. “Kota ini kan disebut pula sebagai Kota Pendidikan. Jadi, kami memulainya dari sini. Terlebih permohonan izin belajar mahasiswa asing ke Jogjakarta selalu terbanyak dibandingkan dengan kota-kota lain,” papar Purwanto.

Dalam sosialisasi tersebut, diundang pula perwakilan dari sejumlah perguruan tinggi yang ada di Jogjakarta. “Sedikit ada pelatihan seputar petunjuk untuk layanan digital itu, meski perguruan tinggi di Jogjakarta sebenarnya sudah cukup familiar dengan penggunaan teknologi digital. Itu pula yang menjadi alasan kami, mengapa percontohannya kami mulai dari Jogjakarta,” tandas Purwanto. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan