Semalam Suntuk Ki Seno Nugroho Di Kampus Stipram

wayang
BANTUL – Dalang kondang Ki Seno Nugroho, tampil semalam suntuk di kampus Stipram (Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo) Jogjakarta, Jumat (2/11) malam. Pergelaran wayang kulit dengan lakon Pandawa Mbangun Karang Kadempel itu menandai puncak peringatan Dies Natalis ke-17 kampus pariwisata tersebut.

Dengan bintang tamu Mimin dan Apri, pergelaran yang berlangsung di depan lobi Hotel Stipram itu memperoleh perhatian dari para penggemar Ki Seno. Tak hanya tamu undangan perwakilan pemkab Bantul, Dinas Pariwisata DIY, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V DIY, serta instansi terkait lainnya, masyarakat sekitar kampus pun tak mau ketinggalan ikut bergabung menyaksikan pergelaran wayang kulit tersebut.

Sambil duduk lesehan di tikar yang disediakan pihak kampus, mereka menikmati pergelaran itu. Saat tampil, Ki Seno secara khusus sempat menyampaikan apresiasi untuk Stipram yang peduli dengan kesenian tradisional wayang kulit sehingga kampus itu maju dan berkembang pesat.

Ketua Stipram, Suhendroyono SH MPar menyatakan rasa syukurnya, kampus yang ia pimpin sekarang ini sudah berusia 17 tahun. Ibarat anak remaja, pihaknya terbuka terhadap saran dan masukan dari berbagai pihak demi kemajuan bersama.

“Harapan kami, ke depan, masih banyak yang kami kerjakan sesuai misi kami mencetak insan pariwisata yang unggul. Kami ingin kehadiran kampus pariwisata ini memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” ujar Suhendroyono kemudian.

Meski berhalangan hadir, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V DIY, Bambang Supriyadi, melalui wakilnya juga menyampaikan apresiasi terhadap Stipram yang peduli dengan seni tradisi. “Stipram ke depan harus semakin menampakkan dirinya sebagai perguruan tinggi pariwisata berkualitas, tidak hanya di tingkat DIY tetapi Indonesia,” harapnya.

Perasaan bangga juga disampaikan Bupati Bantul Drs H Suharsono melalui Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Sunarto. “Kampus ini ternyata sangat peduli dengan pelestarian seni dan budaya adiluhung. Pergelaran wayang kulit ini sebagai buktinya,” katanya.

Sunarto kemudian mengajak para penggemar wayang kulit terus bersemangat mencintai seni pedalangan yang sarat tuntunan, tontonan, dan tatanan. “Dengan mencintai seni dan budaya sendiri, anak bangsa tidak akan kehilangan jatidirinya sebagai bangsa Indonesia,” tandas Sunarto. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan