Seni ‘Kanggo Sedulur’ Lombok

lombok
JOGJA – Minggu, 29 Juli 2018, gempa pertama terjadi di pulau Lombok dengan skala 6,4 magnitudo. Pusat gempa terjadi di selat Sumbawa. Guncangannya besar, terutama di Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa bagian Barat, hingga pulau Bali bagian Timur. Dalam kesadaran kosmis masyarakat Sasak, setiap kali terjadi gempa berskala besar pertanda akan datang gempa susulan bertubi-tubi.

Pulau itu tidak pernah mengalami gempa tanpa susulan dengan skala sama atau lebih besar lagi. Dan benar, pada Minggu (5/8) petang, gempa terjadi lagi dengan skala lebih besar, 7 skala magnitudo. Guncangannya sampai terasa ke sebagian Jawa Timur. Dari rilis BMKG tercatat 576 gempa susulan. Pada Minggu (19/8) terjadi gempa susulan bertubi-tubi dari 5,4; 6,4; dan 7,0 magnitudo dalam rentang kurang dari satu jam.

Gempa yang terjadi akhir Juli sampai akhir Agustus 2018 itu merupakan gempa terpanjang dalam sejarah pulau Lombok, Sumbawa, dan mungkin Indonesia. Memasuki minggu ketiga, dampak gempa di pulau Lombok menyebabkan 417.529 jiwa mengungsi; 73.843 rumah rusak total; 7.145 jiwa luka berat; 798 fasilitas publik rusak berat; 555 fasilitas pendidikan rusak berat; 596 masjid rusak berat; 548 jiwa meninggal; dan kerugian ditaksir mencapai Rp 7,7 triliun.

Semua itu tidak termasuk dampak ekonomi dan psikologis yang dialami seluruh masyarakat Lombok dan Sumbawa. Penanggulangan gempa, tanggap darurat maupun tanggap menengah-panjang, sudah dilakukan pemerintah dan masyarakat Indonesia. Karena dampaknya yang luas, penanggulangan dampak gempa membutuhkan waktu cukup panjang. Terlebih jika mengingat letak, posisi, dan kontur wilayah yang terpapar, wilayah pegunungan yang tidak mudah diakses seperti pada wilayah lain.

“Kami selaku masyarakat seni Yogyakarta memiliki tanggungjawab moral untuk turut bergerak meringankan beban masyarakat Lombok dan Sumbawa,” ujar Arifin mewakili satuan masyarakat seni Yogyakarta.

Para Relawan Seni Peduli Lombok yang merupakan gabungan dari elemen akademik, komunitas, dan masyarakat seni itu akan menggelar aksi donasi Seni Kanggo Sedulur Lombok sebagai ikhtiar moral untuk menggalang solidaritas yang lebih luas bagi masyarakat Lombok dan Sumbawa.

Acara akan digelar di Boulevard kampus ISI Yogyakarta, 9 September 2018, pukul 07.00 sampai 21.00 WIB, ditujukan untuk pengumpulan donasi melalui panggung seni, sastra, dan budaya. “Kami berharap melalui acara tersebut, gempa yang menyasar pulau Lombok dan Sumbawa terus menjadi isu nasional atau perhatian utama pemerintah dan masyarakat Indonesia,” timpal salah seorang relawan lainnya, M Alwi.

Komunitas tersebut juga memandang, dalam jangka cukup panjang, seiring proses penanggulangan, pemulihan, dan pembenahan paska gempa, berbagai elemen masyarakat Indonesia perlu bahu-membahu membantu masyarakat Lombok dan Sumbawa. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan