Seniman Wedangan Gelar Festival Budaya

wedangan
JOGJA – Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Purwadi mengapresiasi semangat Kelompok Seniman Wedangan yang selalu eksis dalam kiprah seni budaya di Jogjakarta melalui gelaran FSBW (Festival Seni Budaya Wedangan) 2018, yang memberikan kontribusi positif dalam menyemarakkan pariwisata di kota Budaya ini.

“Walau bapak-bapak ini usianya sudah enampuluhan atau setidaknya di atas limapuluh tahun, namun semangat nguri-uri budayanya sangat tinggi. Rutinitas menggelar acara seni budaya perlu diapresiasi. Ini menjadi teladan bagi generasi muda dalam melestarikan seni budaya,” ujar Heroe dalam pembukaan FSBW 2018, di Plaza Ngasem, Yogyakarta, Selasa (11/9) malam.

Dalam FSBW digelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh dalang Ki Mangkok atau Drs Totok Sugiyanto, pameran seni rupa, kerajinan, dan kuliner. Didampingi Ketua Paguyuban Seniman Budaya Wedangan Ngayogyakarta Bambang Sukono, sesepuh Kelompok Wedangan Ki Mangkok mengatakan, kegiatan ini kali pertama diselenggarakan di Plaza Ngasem, dan akan berlangsung hingga Kamis (20/9).

“Kegiatan pagelaran seni semacam ini, terutama pameran lukis sudah kami lakukan empatbelas kali. Berpindah-pindah tempat dan terakhir di Taman Budaya Yogyakarta pada April 2017. Setidaknya dua kali setiap tahunnya kami berswadaya atau patungan bikin pagelaran. Dan kali pertamanya kegiatan Kelompok Wedangan di Plaza Ngasem ini mendapat dukungan pemerintah daerah,” ujar Ki Mangkok.

Agenda kegiatan FSBW selama 10 hari menampilkan pameran lukisan dari beberapa pelukis Yogyakarta, kerajinan rakyat, dan kuliner. Malam harinya ditampilkan aneka hiburan. Mulai dari wayang kulit, jathilan, angguk, tari klasik, pantomim, dan puisi tari. Juga hiburan aneka musik, mulai dari musik rebana, musik balada, serta band yang beraliran musik reggae, klasik rock, hingga musik pop koesplusan.

Slamet Riyanto dan teman-teman seniman dari Kelompok Wedangan berharap, kegiatan di Plaza Ngasem ini bisa menjadi pemantik agar pemerintah daerah lebih memperhatikan lagi nasib para seniman. Setidaknya kemudahan fasilitas pameran atau semacam pasar seni seperti yang pernah dijanjikan.

“Juga diharapkan adanya dukungan dari pihak swasta sebagai sponsorship dalam setiap penyelenggaraan kegiatan semacam FSBW ini, sehingga seniman lukis khususnya dan para pekerja seni lainnya bisa lebih sering memamerkan atau promosi karya-karyanya dan berdampak ada interasksi positif dengan masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung,” tutur Slamet.

Bambang Sukono menjelaskan, komunitas Wedangan ‘Ngawe Kadang’ sudah eksis sejak 2009. Bermarkas di Jalan Polowijan, Yogyakarta, tepatnya depan Pasar Ngasem. Diprakarsai oleh Slamet Riyanto, Bambang Sungkono Wijoyo, Naima Farid, dan Totok Sugiyanto (Ki Mangkok). Keempat tokoh pendiri tersebut merupakan alumni ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) yang kini menjadi ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta.

Dinamai Kelompok Wedangan karena mereka sering kumpul-kumpul sambil wedangan di angkringan atau di warung-warung mana pun yang cocok untuk berkumpul. Wedangan sendiri mempunyai filosofi ngawe kadang atau mengajak bersahabat. Mereka berdiskusi tentang bagaimana membangun eksistensi perupa dan upaya menyejahterakannya. Hingga kini jumlah anggotanya sampai 200 orang. “Wedangan itu Ngawe Kadang atas dasar silaturahim. Kalau mau pameran tak perlu ada seleksi,” tandas Bambang. (yul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan