Seno ‘mBangun’ Amarta Di UAD

Wayang Kulit: Rektor UAD H Kasiyarno (berdiri kanan) menyerahkan 'gunungan' kepad dalang Ki Seno Nugroho sebagai tanda dimulainya pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, di kampus 4 UAD, Jogjakarta, Sabtu (5/1) malam.

Wayang Kulit: Rektor UAD H Kasiyarno (berdiri kanan) menyerahkan ‘gunungan’ kepad dalang Ki Seno Nugroho sebagai tanda dimulainya pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, di kampus 4 UAD, Jogjakarta, Sabtu (5/1) malam.

JOGJA – Sebagai rangkaian memperingati milad ke-58, UAD Jogjakarta menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan lakon Amarta Binangun dengan dalang Ki Seno Nugroho, di Kampus 4, universitas setempat, Sabtu (5/1) malam.

“Selain nguri-uri atau melestarikan budaya leluhur, kami juga ingin terus mempertahankan wayang kulit sebagai media dakwah,” tutur Rektor UAD (Universitas Ahmad Dahlan), Dr H Kasiyarno MHum.

Kasiyarno pun menyatakan, pergelaran wayang kulit sekaligus untuk meneladani langkah KHA Dahlan yang dikenal pula melakukan syiar agama melalui jalur keberbudayaan. “Kita tahu beliau, kiai Ahmad Dahlan, merupakan sosok yang mencintai seni,” tegasnya.

Lakon Amarta Binangun sengaja dipilih agar kita semua dapat mengambil pelajaran bahwa untuk memperoleh atau mencapai sesuatu itu harus melalui kerja keras lebih dahulu. “Tak ada prestasi yang bisa dicapai secara mudah. Semuanya harus melalui perjuangan dan kerja keras,” ujar Kasiyarno kemudian.

Bukan milad tahun ini saja UAD menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. “Sudah sejak 2007 kami selalu menggelar pergelaran wayang kulit dengan lakon dan dalang yang berbeda-beda. Kali ini kami mengundang Ki Seno Nugroho. Sekaligus mempersilakan masyarakat sekitar untuk menikmati pertunjukan,” tandas Kasiyarno.

Warga sekitar yang datang secara bergelombang, semakin malam semakin ramai memang tampak sangat menikmati aksi ki dalang. Bukan itu saja, kehadiran sinden berdarah Prancis, Elisha Orcarus Allasso, pun mampu menjadi daya tarik tersendiri.

Tak lupa, UAD pun mengajak sejumlah mahasiswa asing untuk menikmati pertunjukan tersebut. “Saya sangat suka melihatnya. Kesenian ini sangat unik. Mulai dari musiknya, bahasanya, hingga nada-nada yang dihasilkan dari masing-masing instrumen. Saya sangat menikmati,” ungkap Ali Abdulraoof Taha Almaktari asal Yaman.

Mengajak anak-anak muda, terutama mahasiswa UAD untuk mencintai kesenian dan budaya tradisi memang juga menjadi salah satu tujuan diselenggarakannya pertunjukan tersebut.

“Meski hingga saat ini hasilnya belum memuaskan. Anak-anak muda sekarang ini belum menyukai atau menonton pertunjukan wayang kulit seperti dulu saya menyukai pertunjukan wayang kulit semasa kecil,” papar Kasiyarno lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan