Seratusan Fotografer Makro Beraksi Di Banyunibo

March Macro #4: Salah seorang penggagas March Macro, Teguh Santosa (pegang mic), didampingi sejumlah panitia March Macro #4 menjelaskan seputar kegiatan yang diikuti seratusan fotografer makro, di candi Banyunibo, Sleman, DIY, 30-31 Maret 2019.

March Macro #4: Salah seorang penggagas March Macro, Teguh Santosa (pegang mic), didampingi sejumlah panitia March Macro #4 menjelaskan seputar kegiatan yang diikuti seratusan fotografer makro, di candi Banyunibo, Sleman, DIY, 30-31 Maret 2019.

JOGJA – Untuk kali kesekian, para pehobi fotografi makro berkumpul di Jogjakarta. Seratusan fotografer berasal dari beberapa daerah seperti Batam, Samarinda, dan lain-lain bahkan asal Kelantan, Malaysia akan melakukan berbagai kegiatan di candi Banyunibo, Sleman, DIY, 30-31 Maret 2019.

Kegiatan tahunan itu dilakukan setiap Maret. Maka mereka namai March Macro. Tahun ini merupakan penyelenggaraan kali keempat. “Sebenarnya kali kelima tapi pada pelaksanaan pertama pada 2014 kami namai Cultural Macro,” ujar penggagas March Macro, Teguh Santosa, kepada wartawan, di Gudang Digital, Jogjakarta, Jumat (29/3) malam.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pertemuan para fotografer akan diisi dengan berburu foto bareng pada pagi dan sore hari, dan tentu saja memotret makro, serta lomba di antara peserta yang pada March Macro #4 mengambil tema Unity.

Juga seperti biasanya, pertemuan para fotografer kali inipun tidak digelar secara eksklusif. Tetap melibatkan masyarakat sekitar. Tahun ini masyarakat sekitar candi Banyunibo. “Paling tidak, sajian kuliner akan disediakan oleh ibu-ibu di sekitar candi,” jelas Teguh.

Begitu pula pada pameran foto makro, akan menyasar warga sekitar maupun siswa-siswa TK dan SD setempat sebagai pengunjung. “Salah satu tujuannya, mengenalkan hewan-hewan kecil kepada para siswa,” ujar Teguh seraya menjelaskan, hewan kecil biasa menjadi objek foto makro.

Tak hanya berburu foto makro, pertemuan juga diisi dengan beberapa acara lain. Meliputi workshop lighting model dalam framing landscape di candi Banyunibo dengan mentor Roy Genggam, perjalanan macro Indonesia oleh Teguh Santosa dan Andiyan Lutfie, profesi fotografi dan gelar-gelar fotografi nasional maupun internasional oleh S Setiawan, serta fotografi ekspresi oleh Risman Marah.

Khusus untuk lomba, imbuh Teguh, tidak hanya teknik pemotretan yang akan menjadi pertimbangan juri. Kesesuaian dengan tema pun akan menjadi penilaian utama. “Terserah bagaimana para peserta akan menginterpretasikan dan menuangkannya dalam karya, yang penting tak lepas dari tema Unity,” tegasnya.

Panitia pun menjamin, akan sangat menarik berburu foto makro di candi Banyunibo. Sesuai namanya, banyunibo atau air yang menetes, candi yang berada di tengah persawahan jauh dari ingar-bingar kehidupan itu memiliki sosok yang indah lengkap dengan banyaknya ornamen dan relief di sekujur badan candi. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan